Limapuluh Kota, elaeis.co - Para petani karet sejak beberapa waktu belakangan dihadapkan dengan kondisi ekonomi yang amat sulit. Di saat nilai jual karet alam yang tidak kunjung membaik di pasaran, diperparah oleh kondisi iklim yang tidak bersahabat.

"Sudah lama saya tak menderes," kata Jafri, petani karet di sebuah nagari di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), kepada elaeis.co, Jumat (3/2/2023).

Selain karena harga yang rendah, yaitu Rp6.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, kondisi iklim yang fluktuatif membuat para petani nyaris berputus asa mengelola perkebunan karetnya.

Komoditas yang satu ini tergolong rentan terhadap perubahan iklim ketika diproduksi. Manakala penderesan dilakukan di pagi hari, bila tiba-tiba turun hujan dari pagi sampai siang getah karet tak lagi bisa diambil karena sudah didominasi oleh unsur air hujan.

Badri, petani karet lainnya di nagari yang sama, mengaku lebih memilih kerja serabutan dari pada menderes karet. "Makan hati awak," katanya.

Dijelaskan, susah-susah menderes karet di pagi hari, bahkan sudah harus berangkat ke kebun usai shalat Subuh, manakala menjelang siang mendadak turun hujan praktis karet yang sudah dideres tidak lagi bisa dijadikan uang.

Terhitung sejak pertengahan tahun lalu, fluktuasi harga karet di tingkat pedagang pengumpul di daerah itu hanya bergerak pada tingkatan harga penjualan yang rendah. Pernah mencapai Rp7.000/kg, belakangan melorot lagi menjadi hanya Rp6.000/kg. Bahkan pernah di bawah angka itu.

Karena sebagian besar kebun karet merupakan kebun rakyat, maka tingkat produksi getah karet yang dihasilkan juga cukup rendah.

Harga karet pernah mencapai puncaknya, yaitu Rp22.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, yaitu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.