Jakarta, elaeis.co – Selama ini batang kelapa sawit yang ditebang saat program peremajaan (replanting) lebih sering dianggap sebagai limbah. Padahal, sebelum benar-benar dibersihkan dari lahan, batang sawit tua masih menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar. 

Dari bagian pucuknya dapat dihasilkan nira yang kemudian diolah menjadi gula merah dengan nilai jual yang menjanjikan.

Peluang tersebut telah dimanfaatkan oleh Edi Sulistiantoro, warga Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

Ia membuktikan bahwa batang sawit yang sudah tidak produktif lagi sebagai penghasil tandan buah segar masih dapat memberikan keuntungan melalui produksi gula merah berbahan baku nira.

Kelapa sawit umumnya memasuki masa peremajaan setelah berumur sekitar 15 hingga 20 tahun. Pada tahap ini, tanaman lama ditebang agar dapat diganti dengan bibit baru yang memiliki produktivitas lebih tinggi. 

Namun, sebelum batang dibuang, bagian pucuknya masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan cairan manis alami.

Untuk memperoleh nira, bagian pucuk batang sawit diiris hingga mencapai lapisan berwarna putih. Dari bekas irisan tersebut akan keluar cairan yang kemudian ditampung dalam wadah tertutup agar tidak tercampur air hujan maupun kotoran.

Dalam waktu sekitar 24 jam, satu batang sawit mampu menghasilkan kurang lebih 10 liter nira. Cairan tersebut kemudian disaring sebelum masuk ke tahap pengolahan.

Proses berikutnya adalah pemasakan menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Nira direbus selama tiga hingga lima jam sampai kadar airnya berkurang dan teksturnya berubah menjadi lebih kental dengan warna cokelat kemerahan.

Setelah mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan, cairan dituangkan ke dalam cetakan yang umumnya terbuat dari bambu, kayu, atau tempurung kelapa. Setelah dingin dan mengeras, terbentuklah gula merah siap jual.