Baca juga: Skenario Usang Beasiswa Sawit

Saat itu, proses rekrutmen dilakukan secara manual. Seleksi dilakukan di daerah-daerah penghasil sawit dan melibatkan Apkasindo. Adapun alasan rekrutmen manual itu dilakukan lantaran anak-anak petani kebanyakan tinggal di pelosok desa. Sinyal telekomunikasi pun susah.     

Lalu, syarat-syarat untuk ikut beasiswa juga tidak ribet. Cukup menampakkan bukti kalau bapaknya pekebun atau buruh di kebun kelapa sawit. 

Anak-anak petani atau buruh sawit ini tak perlu yang juara-juara. Tapi mau ikut beasiswa dan mau pulang kampung untuk mempraktekkan ilmunya, itu sudah cukup. 

Sayang, yang semacam ini rupanya hanya sekali.  Seterusnya, beasiswa ini sudah terkesan menjadi bisnis. Sebab, tidak hanya disuruh ambil alih oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Sawit Indonesia (Alpensi), strata dan penyelenggara beasiswa ini pun bertambah banyak.

Baca juga: Seleksi Beasiswa Sawit Kembali Picu Masalah. Petani Ancam Demo ke Jakarta 

Celakanya, sejak diproyekkan kepada Alpensi, proses rekrutmen tidak lagi manual, tapi sudah secara online. Alhasil, banyak anak petani yang kelimpungan lantaran harus datang ke ibukota kecamatan atau kabupaten demi mendapatkan sinyal telekomunikasi.

Sudahlah harus seperti itu, boro-boro lulus. Maklum, soal-soal yang disodorkan kepada para bakal calon penerima beasiswa ini adalah soal-soal yang setara dengan ujian beasiswa pada umumnya. 

Sudah tak terhitung berapa kali petani protes soal beasiswa ini. Sayang, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) yang kemudian mengambil alih proyek beasiswa ini bergeming.