Tahun ini, memang ada perubahan. Selain quota yang bertambah dari 600 menjadi 1000, Alpensi tidak lagi menjadi penggelar rekrutmen beasiswa sawit. Hanya saja, proyek ini justru diberikan kepada PT. LPP Agro Nusantara Yogyakarta. Sampai sekarang elaeis.co belum mendapat penjelasan kenapa proyek beasiswa ini tidak ditenderkan.
Semakin mempermudah anak petani sawitkah? Jawabannya kata para petani sawit, malah semakin memperparah. Selain tetap dilakukan secara online, ada yang bilang proses rekrutmen sudah kayak proses rekrutmen manager kebun.
Alhasil tahun ini, anak-anak dari Pulau Bintuni Provinsi Papua Barat gagal ikut beasiswa lantaran mereka tak bisa mengakses sinyal internet. Itu baru dari Pulau Bintuni, belum lagi dari daerah lain.
"Di Papua, yang lolos tes awal 19 orang, ternyata yang lulus hanya 3 orang, kami kecewa dengan hasil tes tahun ini," rutuk Ketua Bidang Organisasi Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPW-Apkasindo) Papua, Terry Ansanay.
Di Papua, program beasiswa bagi anak-anak petani sawit ini kata lelaki 54 tahun ini sebetulan menjadi salah satu program unggulan. "Kami malah sampaikan itu kepada orang tua mereka saat kami rapat maraton bersama dewan adat Keerom, dalam rangka mendorong percepatan PSR di daerah kami. Tapi kenyataannya malah seperti ini, kami sangat kecewa," katanya.
Uniknya, quota 1000 orang itu sudah didapat dan diumumkan beberapa hari lalu. Yang 1000 orang ini hasil seleksi dari sekitar 3000 orang yang mendaftar. Pertanyaan yang kemudian muncul, betulkan yang 1000 orang ini anak-anak petani? Kalau iya, kenapa protes masih meluap dari sana-sini?
Beasiswa Sawit Antara Aroma Proyek, Ego dan Sya la la...
Diskusi pembaca untuk berita ini