Jakarta, elaeis.co – Sebanyak 17 juta petani sawit dan keluarganya dinilai menghadapi tekanan serius.
Bukan cuma soal harga Tandan Buah Segar (TBS), petani kini juga dibayangi rumitnya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), ketidakpastian legalitas lahan hingga ancaman kehilangan akses pasar.
Kondisi tersebut diungkapkan Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat ME Manurung, dalam pertemuan dengan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) di Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut Gulat, persoalan yang menimpa petani sawit sudah saling berkelindan. Di satu sisi, produktivitas kebun rakyat masih rendah dan membutuhkan peremajaan. Di sisi lain, petani justru menghadapi persyaratan PSR yang dinilai terlalu berat.
“Rendahnya capaian PSR dalam beberapa tahun terakhir karena syaratnya terlalu berat bagi petani. Masalah ini sangat mengkhawatirkan untuk peningkatan produksi sawit,” ujar Gulat.
Ia menilai narasi bahwa petani enggan mengikuti PSR karena harga TBS tinggi perlu diluruskan. Menurutnya, hambatan utama justru datang dari persyaratan administrasi dan teknis yang sulit dipenuhi.
Masalahnya, target PSR malah terus menyusut. Dari sebelumnya 180 ribu hektare, turun menjadi 120 ribu hektare dan tahun ini hanya 50 ribu hektare.
Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena kebutuhan minyak sawit dalam negeri justru terus meningkat, terutama untuk menopang program kemandirian energi dan mandatori biodiesel.
Saat ini, Gulat menyebut produktivitas petani swadaya rata-rata baru sekitar 1,7 ton CPO per hektare per tahun.
Tanpa percepatan peremajaan dan peningkatan produktivitas, pasokan sawit nasional dikhawatirkan menghadapi persoalan ketika kebutuhan domestik semakin besar.
Bertemu IPOSS, APKASINDO Buka-bukaan Soal Nasib Petani Sawit yang Makin Tertekan
Diskusi pembaca untuk berita ini