Jakarta, Elaeis.co - Belum lama ini, Pemerintah Belgia menyatakan akan memberlakukan pelarangan penggunaan biofuel berbasis minyak sawit di negara tersebut karena dinilai menghilangkan deforestasi.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung membantahnya karena dia menilai hal itu kontradiksi.

"Biofuel sawit justru mengurangi deforestasi dan polusi dunia. Ini bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Negara Belgia," kata Tungkot dalam video Palmoil Indonesia yang ditengok Elaeis.co, Selasa (21/9).

Tungkot mengatakan, pemerintah Belgia sangat keliru tentang itu. Apalagi, sampai berencana menyetop minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Menurutnya justru biofuel berbasis sawit lah yang mengurangi deforestasi dunia.

"Kalau kita berpikir secara ekosistem global, justru biofuel berbasis sawit, kurangi deforestasi dunia," kata Tungkot.

Bahkan, dampak deforestasi akan meningkat 17.7 juta hektare per tahun jika Uni Eropa tidak mengunakan minyak sawit sebagai bahan biodiesel. Sebab, Uni Eropa selama ini menggunakan biodiesel sekitar 3 juta ton per tahun.

"Nah, misalnya, mereka tak mau menggunakan sawit dan berubah menggunakan minyak kedalai atau biji rapa (rapeseed) maupun biji bunga matahari (sunflower), maka yang terjadi, Uni Eropa akan meningkatkan deforestasi dunia. Bukan menurun," kata dia.

Tidak hanya meningkatkan deforestasi, kata Tungkot, jika Uni Eropa melarang penggunaan biofuel berbasis minyak sawit, maka polusi nitrogen tanah atau air dunia juga naik menjadi 216 ribu ton per tahunnya. 

"Kenaikan itu terjadi karena bergeser dari yang hemat nitrogen menjadi yang boros. Polusi pasfor tanah juga akan naik menjadi 168 ribu ton/tahun. Begitu juga dengan polusi pestisida tanah, naik menjadi 180.8 ton per tahunnya," pungkasnya.