Bekasi, elaeis.co -- Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat investasi pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi meningkatkan daya saing industri sawit nasional. Pada 2026 ini, BPDP menargetkan pembiayaan pengembangan SDM bagi sekitar 15.000 peserta melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan.
Kabar baik ini diutarakan Kepala Divisi Penyaluran Dana Pengembangan SDM Perkebunan BPDP, Sudi Bawa Suwita, saat menyampaikan Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-20 Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE) di Bekasi, Senin, 3 Agutus 2026.
Menurut Sudi, industri sawit Indonesia saat ini memasuki era baru yang ditandai dengan transformasi global, sehingga membutuhkan SDM yang semakin kompeten untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.
"Produktivitas kelapa sawit Indonesia, khususnya perkebunan rakyat, saat ini masih berkisar 2-3 ton CPO per hektare per tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak tanaman yang sudah tua, penggunaan bibit yang tidak unggul, serta kompetensi sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan," ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah menargetkan produksi minyak sawit nasional mencapai 60 juta ton pada 2030 untuk memenuhi kebutuhan pangan, energi hijau, dan pasar ekspor. Untuk mencapai target tersebut, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu faktor yang paling menentukan.
"Jawaban untuk memenuhi target tersebut terletak pada pengembangan sumber daya manusia. SDM unggul merupakan kunci utama untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan keberlanjutan industri sawit Indonesia," katanya.

Sudi menjelaskan, pengembangan SDM sawit dilakukan melalui empat pilar utama, yakni pendidikan, pelatihan, penyuluhan, serta pendampingan dan fasilitasi. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemampuan teknis, manajerial, hingga kewirausahaan para pelaku industri sawit.
Ia menambahkan, transformasi BPDP melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 juga memperluas mandat lembaga tersebut. Tidak hanya mengelola dana sawit, BPDP kini juga mengelola dana perkebunan komoditas kakao dan kelapa, dengan fokus pendanaan pada enam pilar utama. Yaitu, peremajaan perkebunan, penelitian dan pengembangan, pengembangan SDM, penyediaan sarana dan prasarana, promosi, serta dukungan terhadap hilirisasi dan bioenergi.
Menurut Sudi, tantangan industri sawit saat ini harus dijawab melalui peningkatan daya saing secara menyeluruh. Nah, untuk memenangkan persaingan, ujarnya mengingatkan, industri sawit harus memperbaiki produktivitas dan efisiensi, meningkatkan kualitas, memperkuat hilirisasi, mengembangkan inovasi dan teknologi, menjalankan usaha secara berkelanjutan, memiliki SDM unggul, serta didukung kebijakan dan regulasi yang tepat.
Dalam bidang pendidikan, BPDP saat ini mendukung program beasiswa mulai dari jenjang Diploma I hingga Diploma IV serta Strata 1 yang berorientasi pada kebutuhan industri sawit. Sementara pada bidang pelatihan, program difokuskan pada aspek teknis budidaya, panen dan pascapanen, ISPO, penguatan kelembagaan pekebun, manajemen, kewirausahaan, hingga fasilitasi pendamping daerah.

Sudi mengungkapkan, hingga kini BPDP telah bermitra dengan 44 lembaga pendidikan yang tersebar dari Aceh hingga Papua untuk menyelenggarakan program pendidikan vokasi dan sarjana di bidang kelapa sawit.
Pada kesempatan itu, ia memberikan apresiasi kepada Politeknik CWE yang dinilai telah berkontribusi dalam mencetak SDM profesional bagi industri sawit nasional. "CWE telah menjadi salah satu pilar penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang langsung diserap industri sawit nasional. Perannya sangat strategis dalam mendukung pengembangan industri sawit Indonesia," katanya.
Sudi pun mengajak generasi muda, khususnya siswa SMA dan SMK, untuk tidak ragu membangun karier di sektor perkebunan, didahului dengan menempuh pendidikan di kampus vokasi sawit. "Jangan ragu memilih karier di industri sawit. Sawit bukan lagi sekadar industri perkebunan tradisional, melainkan industri modern berbasis teknologi tinggi yang membutuhkan tenaga-tenaga profesional untuk mendukung Indonesia Emas 2045," kata Sudi.-
SDM Kunci Daya Saing Sawit Indonesia, BPDP Targetkan Danai Pengembangan SDM 15.000 Peserta pada 2026
Diskusi pembaca untuk berita ini