Saat ini kata Wayan, ada 867 kepala keluarga warganya. Dari jumlah itu, 175 kepala keluarga adalah warga Kaili yang bermukim di Dusun Iyambo Jaya dan Kabuyu.
Dulu, tanah warga Kaili luas-luas. Ada yang 4 hingga 10 hektar. Sekarang, malah ada yang sama sekali tak punya tapak rumah lantaran semua tanahnya sudah dijual.
"Mereka menjual tanah itu ada yang untuk beli sepeda motor, nikahkan anak dan bahkan untuk beli barang elektronik," katanya.
Uniknya, meski sudah tak punya tanah apalagi kebun, justru masih bisa punya hasil panen sawit 1 ton. Rupanya beberapa diantaranya 'kerja malam', mencuri. Mereka punya katingting (perahu kecil).
"Lokasi (kebun) teman Bali di pinggir sungai sudah dipanen duluan. Oknum-oknum ini sudah tak takut lagi lantaran sudah sering seperti itu dan tertanggap. Mereka sudah tahu kalau perbuatannya itu tindak pidana ringan (tipiring)," ujarnya.
Bukan tak sering Wayan menegur ulah oknum-oknum warganya itu. "Sekarang enak bisa maling, kalau nanti tak ada lagi, mau makan apa?" begitu dia mengingatkan.
Beberapa tahun belakangan, muncul pula kelompok yang mengaku kalau lahan yang diusahai perusahaan, dulunya sudah ditanami coklat, jeruk.
"Kalau saya bilang, itu pengakuan bohong. Gimana tanaman mau hidup wong dulunya di daerah ini air masih se dada," katanya.
Bro, Mamuang Digoyang FoE, Nestle Disuruh Begini...
Diskusi pembaca untuk berita ini