Menurut SEVP Operation KPBN Inacom, Muhammad Zulham Rambe, kondisi withdraw muncul karena tidak adanya titik temu harga antara pemilik barang dan pembeli, dalam hal ini perusahaan refinery domestik. 

Ia menegaskan bahwa mekanisme tender KPBN tetap murni berbasis pasar.

Zulham juga menjelaskan bahwa meskipun terdapat kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, hal tersebut tidak berdampak langsung pada operasional KPBN. 

Namun, pasar sempat mengalami tekanan psikologis saat kebijakan tersebut diumumkan, yang terlihat dari pola penawaran pembeli yang berada jauh di bawah harga pembukaan.

Dalam periode sekitar 10 hari setelah pengumuman kebijakan tersebut, KPBN mencatat beberapa kali kondisi withdraw berturut-turut. 

Selisih antara harga pembukaan dan penawaran bahkan melebar hingga sekitar Rp4.000 per kilogram, jauh di atas kondisi normal yang biasanya hanya sekitar Rp150 per kilogram. Meski demikian, harga CPO global disebut tidak mengalami penurunan signifikan pada periode yang sama.

KPBN menegaskan bahwa harga TBS petani tidak semestinya terdorong turun jika harga CPO internasional tetap stabil atau naik. Hal ini juga telah disampaikan kepada pemangku kepentingan dalam sejumlah forum koordinasi.

Saat ini, KPBN memasarkan sekitar 2,5 juta ton CPO per tahun atau sekitar 5 persen dari total produksi nasional. Meski porsinya relatif kecil, harga yang terbentuk di KPBN kerap dijadikan referensi oleh pelaku industri lain dalam menentukan arah harga CPO domestik.

KPBN juga menerapkan sistem keanggotaan dan kewajiban cash deposit bagi pembeli untuk menjaga integritas pasar. Mekanisme ini bertujuan mencegah praktik spekulatif yang dapat merusak harga, seperti penawaran tidak realistis yang kemudian dibatalkan setelah menang tender.

Dengan mekanisme pasar yang ketat tersebut, KPBN menilai industri sawit Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang kuat. Investasi di sektor perkebunan dan pabrik kelapa sawit terus meningkat, seiring Indonesia mempertahankan posisinya sebagai produsen CPO terbesar dunia.

Di sisi lain, kebijakan biodiesel seperti B40 yang berpotensi meningkat menjadi B50 juga disebut menjadi faktor penopang stabilitas harga CPO ke depan, karena meningkatkan serapan domestik.

KPBN menutup paparannya dengan menegaskan bahwa fluktuasi harga CPO adalah keniscayaan dalam komoditas global. 

Dalam sejarahnya, industri sawit pernah mengalami fase harga sangat rendah hingga di bawah biaya produksi, namun juga pernah mencatatkan lonjakan harga tinggi. Dinamika tersebut diperkirakan tetap berlanjut hingga 2027–2028.