Jakarta, elaeis.co – Meredanya kekhawatiran pasar terhadap rencana implementasi single desk ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu kembali minat investor terhadap saham-saham emiten perkebunan sawit. 

Setelah sempat tertekan akibat ketidakpastian kebijakan, sektor ini kini kembali mencatat penguatan seiring membaiknya sentimen global dan domestik.

Indo Premier Sekuritas dalam riset terbarunya menyebut, kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak kebijakan DSI mulai berkurang setelah adanya penjelasan bahwa peran lembaga tersebut ke depan lebih bersifat sebagai perantara ekspor, bukan sebagai trader yang mengendalikan harga.

Dalam skema yang direncanakan berlaku setelah masa transisi mulai 1 Januari 2027, DSI akan berfungsi sebagai fasilitator dan pengawas aktivitas ekspor CPO untuk mengurangi praktik under-invoicing. 

Penetapan harga tetap akan mengikuti mekanisme pasar, sementara DSI berpotensi mengenakan biaya administrasi dan verifikasi.

Perubahan persepsi ini dinilai menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor sawit yang sebelumnya mengalami koreksi cukup dalam. Tercatat, saham emiten perkebunan terkoreksi sekitar 14–23 persen sejak pertengahan Mei 2026 akibat kekhawatiran pasar terhadap intervensi kebijakan ekspor.

Analis Indo Premier Sekuritas, Halima Yefany dan Aurelia Barus, menjelaskan bahwa penurunan ekspor CPO Malaysia pada Mei 2026 tidak mencerminkan pelemahan permintaan global, melainkan lebih disebabkan oleh pergeseran pembelian ke Indonesia yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Hal ini dipicu oleh pelebaran diskon harga CPO Indonesia terhadap Malaysia yang mencapai sekitar 24 persen pada Mei 2026, meningkat dari sekitar 20 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat pembeli utama seperti China dan India cenderung mengalihkan sumber pasokan ke Indonesia.

Harga CPO acuan Indonesia di pelabuhan Dumai tercatat turun sekitar 3 persen secara bulanan menjadi Rp15,2 juta per ton pada Mei 2026. Sementara harga CPO Malaysia hanya turun sekitar 1 persen menjadi 4.500 ringgit per ton. Perbedaan pergerakan harga ini memperlebar spread antarnegara produsen utama.

Meski ekspor Malaysia sempat melemah 17 persen secara bulanan, Indo Premier menilai kondisi tersebut bersifat sementara. Seiring menyempitnya kembali selisih harga, arus perdagangan diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa bulan ke depan.