Jakarta, elaeis.co – Perjalanan panjang Indonesia sejak 2019 melawan diskriminasi Uni Eropa terhadap komoditas kelapa sawit membuahkan hasil yang memuaskan. Melalui Panel Report (Laporan Hasil Putusan Panel) pada 10 Januari 2025 lalu, World Trade Organization (WTO) memutuskan bahwa Uni Eropa telah melakukan diskriminasi dengan memberikan perlakuan yang tidak adil dan merugikan bagi minyak sawit dan biofuel berbahan baku sawit produksi Indonesia.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengapresiasi putusan Panel WTO tersebut. Dia menilai kemenangan Indonesia dalam sengketa dagang dengan Uni Eropa menunjukkan bahwa diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan hasil positif.
“Kemenangan di WTO itu berkaitan dari terobosan diplomasi presiden dalam beberapa waktu terakhir. Presiden berhasil memperkuat posisi Indonesia dalam dinamika politik global, termasuk bargaining position Indonesia di tengah semakin meningkatnya eskalasi perang dagang Amerika Serikat dengan China dan sekutunya,” katanya dalam keterangan tertulis dikutip elaeis.co Selasa (21/1).
Legislator PAN ini juga yakin kemenangan tersebut akan berdampak positif terhadap ketahanan dan kedaulatan energi di Indonesia. “Kemenangan di WTO akan membuka jalan bagi pengembangan pasar biodiesel berbasis kelapa sawit yang lebih luas yang selama ini mendapatkan diskriminasi dari Uni Eropa,” tandasnya.
“Dan yang pasti, ini memperlihatkan bahwa Indonesia sepenuhnya adalah negara berdaulat yang tidak bisa didikte oleh negara manapun,” tambahnya.
Terkait pengembangan kelapa sawit ke depannya, Waketum PAN ini mengaku akan terus mendorong penggunaan biodiesel B40 dilanjutkan B50 dan penggunaan energi terbarukan lainnya. “Seperti bioavtur agar sektor transportasi menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi impor BBM,” tukasnya.
Agar tidak menjadi celah bagi pihak asing untuk menyerang sawit Indonesia, dia berpesan agar pengembangan industri sawit tetap memperhatikan dan mematuhi kaidah-kaidah keberlanjutan sesuai Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
“Ini demi meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global sekaligus mendukung komitmen pemerintah untuk mengurangi gas rumah kaca dan mencapai target net zero emission (NZE) di tahun 2060,” pungkasnya.
Kemenangan Gugatan Sawit di WTO Jadi Bukti Indonesia Tak Bisa Didikte
Diskusi pembaca untuk berita ini