Menurutnya, sehari setelah pernyataan Presiden tersebut, harga CPO domestik memang mulai naik. Namun kenaikannya hanya berada di kisaran Rp15.800-Rp15.900 per kilogram sehingga belum mampu mengangkat harga TBS secara signifikan.
"Artinya persoalannya bukan di permintaan CPO. Yang belum dibenahi adalah mekanisme pembentukan harga CPO di dalam negeri," ujarnya.
APKASINDO menilai akar persoalan berada pada sistem tender KPBN yang hingga kini masih menjadi acuan harga bagi hampir seluruh pabrik kelapa sawit di Indonesia.
Gulat menyebut mekanisme tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan posisi Indonesia sebagai produsen sekitar 60 persen minyak sawit dunia.
"Malaysia sudah punya bursa, Rotterdam juga punya bursa. Masa Indonesia masih memakai sistem tender tertutup? Kita produsen terbesar dunia tetapi masih memakai cara lama," katanya.
Menurutnya, selama harga referensi CPO masih dibentuk melalui mekanisme tender, harga TBS petani akan sulit mengikuti kenaikan permintaan yang tercipta akibat kebijakan B50.
"Kalau harga tender KPBN tidak rebound, jangan berharap harga TBS petani ikut naik," ujarnya.
Sebagai solusi, APKASINDO mengusulkan pembentukan Bursa Sawit Indonesia agar harga CPO nasional lebih transparan dan mencerminkan kondisi pasar global.
Usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah melalui Satgas Proyek Strategis Nasional (PSN) Sawit.
Gulat menilai pembentukan bursa tidak hanya akan menguntungkan petani, tetapi juga meningkatkan penerimaan negara karena harga referensi CPO menjadi lebih kompetitif.
"Kalau harga referensi kita terlalu rendah, yang rugi bukan hanya petani. Negara juga kehilangan potensi penerimaan dari sektor sawit," katanya.
Ia menegaskan APKASINDO mendukung penuh implementasi B50 sebagai strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, menurutnya keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari berkurangnya impor solar.
"B50 akan benar-benar berhasil kalau petani sawit ikut menikmati hasilnya. Jangan sampai konsumsi CPO naik, tetapi harga buah sawit yang diterima petani tetap jalan di tempat," pungkas Gulat.
Lapor Pak Prabowo! B50 Sudah Jalan, Tapi Petani Sawit Belum Rasakan Manfaatnya
Diskusi pembaca untuk berita ini