Dengan cara itu, sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah dicoba diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Menariknya, SUWIIT tidak berhenti pada urusan pakan. Tim juga membangun Smart Livestock Assistance, sebuah platform digital yang dirancang sebagai teman bagi peternak dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Melalui platform tersebut, peternak dapat memantau kondisi kesehatan hewan, berkonsultasi dengan dokter hewan, hingga memperoleh rekomendasi perawatan otomatis berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Ada pula fitur edukasi interaktif dan marketplace kebutuhan ternak.

Konsep tersebut lahir dari pemahaman tim bahwa persoalan peternak tidak selalu berhenti pada mahalnya pakan. Akses terhadap informasi, dokter hewan, edukasi, pendampingan, dan kebutuhan peternakan juga menjadi tantangan.

Berdasarkan perhitungan awal, tim memproyeksikan SUWIIT dapat menekan biaya pakan sekitar 20–40 persen.

Produktivitas ternak juga diproyeksikan meningkat 20–40 persen, sedangkan angka kematian ternak diperkirakan dapat ditekan sekitar 10–20 persen.

Angka tersebut masih berupa proyeksi awal dalam model bisnis SUWIIT, sehingga membutuhkan pengujian dan implementasi lebih lanjut.

Pengembangan inovasi mendapat pendampingan dari Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng.

Ketua Program Studi TRKI Sekolah Vokasi UNDIP, Dr. Mohamad Endy Julianto, menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengembangkan gagasan yang dekat dengan persoalan nyata di masyarakat.

Bagi Kholis Na’imah, salah satu anggota tim, konsep ekonomi sirkular menjadi bagian penting dari SUWIIT.

Limbah, dalam gagasan mereka, tidak harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. Dengan teknologi yang tepat, limbah masih bisa diolah menjadi sumber daya baru.

Sementara Irgy melihat kebutuhan peternak dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, peternak membutuhkan lebih dari sekadar pakan murah.

Karena itu, SUWIIT mencoba menggabungkan pakan, layanan kesehatan, edukasi, informasi, dan pasar dalam satu ekosistem.

Bagi Luis, mengikuti OLIVIA XI 2026 menjadi kesempatan untuk menguji apakah gagasan tersebut benar-benar mampu menjawab persoalan di lapangan, bukan hanya terlihat menarik di atas kertas.