Internasional 

Mengenal Jepang Sebagai Target Market Minyak Sawit

Mengenal Jepang Sebagai Target Market Minyak Sawit
Produk olahan minyak kelapa sawit. Sumber Foto : RSPO

Jakarta, Elaeis.co - Pelaku industri kelapa sawit di Indonesia boleh berbesar hati atas semakin tingginya permintaan impor dari luar negeri, terutama Jepang sebagai mitra Indonesia. Meskipun hingga hari ini Malaysia masih hadir sebagai kompetitor bagi negara kita untuk menguasai pangsa pasar Asia. Karena nilai ekspor minyak sawit ke Jepang masih kalah dibanding ke Cina dan India.

Berdasarkan data Indonesian Trade Promotion Center Osaka, diketahui bahwa Jepang menerapkan standar sangat ketat untuk minyak kelapa sawit ramah lingkungan. Yakni memiliki sertifikasi RSPO atau sejenis MSPO (Malaysian Suistanable Palm Oil System) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil System). 

Menyikapi terjadinya deforestasi yang di Indonesia pengolahan minyak sawit harus memperhatikan aspek ramah ligkungan atau RSPO (Roundtable for Sustanable Palm Oil) untuk mengantisipasi kekhawatiran ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan suara global minyak sawit berkelanjutan.

Sementara itu berdasarkan jenisnya, import kelapa sawit di Jepang dibagi dalam tiga jenis, yakni kode HS atau minyak mentah, Palm Stearin dan CPO. Selama lima tahun terakhir impor CPO mengalami kenaikan paling signifikan mencapai 124,7 persen per tahun.

RSPO adalah skema yang dibentuk oleh World Wild Fund (WWF) dan lembaga internasional lingkungan lainnya dengan tujuan untuk menggalakkan produksi dan penggunaan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. 

Sehingga produktivitas minyak kelapa sawit di seluruh dunia tidak berdampak buruk pada konservasi hutan tropis, keragaman organisme di hutan dan habitat orang hutan lainnya.

Pelabelan RSPO ini diterapkan pada produk turunan dari olahan minyak kelapa sawit seperti sampo, sabun, deterjen, kosmetik, pasta gigi. Dan juga diberlakukan dalam produk olahan makanan lainnya yakni biskuit, kopi, susu, es cream, coklat. 

Hampir 80 persen minyak sawit yang diimpor ke Jepang dikomsumsi sebagai makanan dan bahan makanan seperti mie instan, makanan beku yang dimasak, makanan ringan keripik kentang, minyak komersial, bahan baku shortening untuk margarin dan makanan olahan lainnya.

Editor: Sany Panjaitan