Jakarta, elaeis.co - Perbandingan produktivitas sawit Indonesia dan Malaysia kembali jadi sorotan. Dalam kunjungan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKASINDO Kalimantan Utara ke kantor Malaysian Palm Oil Board (MPOB) di Selangor, Jumat (3/10), terungkap fakta mengejutkan yakni produksi sawit petani Malaysia rata-rata bisa mencapai 2–2,5 ton per hektare per bulan, hampir dua kali lipat dari capaian petani Indonesia yang masih berada di kisaran 1–1,5 ton per hektare per bulan.

Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Utara, Muh. Khoirudin, didampingi Wakil Ketua Umum DPP APKASINDO Suhendrik, serta Head of International Relation APKASINDO Dr. (Cn) Djono A. Burhan. Mereka disambut hangat oleh Director General MPOB, Datuk Dr. Ahmad Parveez Hj. Ghulam Kadir, bersama jajaran.

Dalam diskusi, Ahmad Parveez menjelaskan bahwa salah satu kunci produktivitas tinggi di Malaysia adalah adanya sistem pendampingan intensif untuk petani. MPOB memiliki tenaga khusus yang disebut pegawai tunas atau penyuluh sawit, yang bertugas memberikan arahan teknis, mulai dari tata cara pemupukan, pengendalian hama, hingga panen yang tepat.

“Petani di seluruh wilayah, baik di semenanjung maupun Borneo, didampingi secara rutin agar praktik pengelolaan kebun lebih efisien dan hasilnya meningkat,” ujar Ahmad Parveez.

Khoirudin menilai, sistem ini layak dicontoh Indonesia. “Produktivitas kita masih kalah jauh. Ini kunjungan strategis bagi APKASINDO untuk belajar bagaimana Malaysia bisa mendongkrak hasil kebun rakyat,” katanya.

Selain produktivitas, Malaysia juga lebih unggul dalam industri turunan sawit. Suhendrik menyoroti bahwa negeri jiran sudah memiliki sekitar 400 produk turunan sawit, sementara Indonesia baru setengahnya.

“Pemerintah Malaysia aktif mendorong masyarakat menggunakan produk turunan, misalnya red palm oil yang kaya vitamin A dan E sebagai pengganti minyak goreng,” jelasnya.

Menurut Suhendrik, kebijakan ini membuktikan bahwa dukungan pemerintah sangat penting agar produk turunan sawit bisa diterima pasar domestik maupun internasional.