Isu lain yang mencuat adalah perbedaan harga CPO antara Indonesia dan Malaysia. Djono Burhan menegaskan bahwa meskipun Indonesia sudah memiliki Bursa CPO (ICDX), harga TBS dan CPO di Malaysia masih lebih tinggi.
Ahmad Parveez menjelaskan, salah satu faktor utamanya adalah kebijakan pajak ekspor. “Di Malaysia, pajak ekspor CPO stabil 10%. Sedangkan di Indonesia, pajaknya fluktuatif tergantung harga, sehingga berpengaruh pada harga jual,” ujarnya.
Djono menambahkan, pemerintah Indonesia perlu memperkuat implementasi program Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) agar benar-benar dirasakan petani. “APKASINDO siap jadi jembatan antara petani dan pemerintah, agar program tepat sasaran dan berdampak nyata,” katanya.
Sementara itu, Suhendrik menutup pertemuan dengan pesan kebersamaan. “Sawit menyatukan Indonesia dan Malaysia sebagai dua bangsa serumpun. Kita harus terus berkolaborasi, bukan bersaing, demi kesejahteraan petani dan kemajuan industri sawit,” tegasnya.
MPOB Buka-bukaan Produktivitas Sawit Malaysia Bisa 2 Kali Lipat Indonesia
Diskusi pembaca untuk berita ini