Aceh, elaeis.co - Hadirnya pabrik kelapa sawit brondolan melahirkan pro kontra ditengah pelaku perkebunan kelapa sawit. Namun sejumlah petani mengaku bahwa hadirnya pabrik brondolan justru memberikan penghasilan tambahan.

Ceria Netap Ginting sebelum berdirinya pabrik kelapa sawit tersebut, brondolan sawit justru dibeli dengan harga rendah. Bahkan menjadi musuh tengkulak lantaran brondolan akan menambah besar potongan saat penimbangan.

"Karena harganya rendah maka banyak petani yang membiar brondolan berserakan, baik dipiringan tanaman sawit atau di tempat penimbangan. Akibatnya, kebun menjadi semak lantaran tunas dari brondolan tersebut," tuturnya kepada elaeis.co, Sabtu (4/7)

Lalu lanjut pria yang menjabat sebagai Ketua Apkasindo Aceh itu, potongan timbangan pengepul saat akan menjual ke sawit ke PKS akan semakin tinggi. Misalnya timbangan sawit 10 dan ada 100 kilogram brondolan, maka PKS bisa menerapkan potongan hingga 10%.

Sementara setelah hadirnya PKS brondolan, petani maupun pengepul kelapa sawit semakin sumringah. Sebab brondolan dibeli justru lebih tinggi dari kelapa sawit.

"Kebun semakin bersih, penghasilan petani semakin maksimal. Begitu juga dengan pengepul, TBS yang ditolak di PKS konvensional bisa kembali dimanfaatkan dengan mengambil brondolannya dan dijual ke PKS brondolan. Malah harga lebih tinggi," paparnya.

Menurut Netap, tuduhan negatif PKS brondolan adalah kampanye hitam dari PKS yang hanya ingin menangguk keuntungan sendiri dan merugikan petani.

"Bahwa brondolan itu rendemennya rendah itu adalah pendapat yang sesat. Faktanya PKS brondolan justru memberikan keuntungan bagi petani sawit. Karena menyerap semua hasil produksi kebunnya," tutupnya.