Dewandaru 

Pengembangan Kawasan Pangan Mandiri

  • Reporter Aziz
  • 14 Desember 2021
Pengembangan Kawasan Pangan Mandiri
Salah seorang tamu Wayan yang datang ke Pangkalan Bun. foto: ist

Akhir-akhir ini kebun dan kandang sapi milik saya di Pangkalanbun Kalteng sering kedatangan tamu dengan ragam latar belakang. Maksud dan tujuan mereka juga beragam.

Misalnya dari lembaga pendidikan (kampus) dengan tujuan meneliti dan studi banding, Pengurus Ikatan Alumi Unair, Kemendes dan organesasi kemasyarakatan seperti PP Muhammadiyah.

Mengkaji kelebihan dan kekurangan apa yang telah saya lakukan. Mengkaji peluang dan ancaman apa yang saya lakukan. Lalu direplikasi sebanyak mungkin di banyak daerah dengan diambil yang baik-baiknya saja.

Baca juga: Negeri Ini Kesulitan Sapi

Kesemuanya tentu bertujuan agar makin berguna bagi orang lain. Agar lembaganya makin bermanfaat optimal secara nyata bagi masyarakat luas dan bangsanya.

Era globalisasi artinya eranya bersinergi atau berkompetisi. Artinya ada tuntutan agar kita siap lomba mutu agar makin bagus, lomba harga agar makin murah dan pelayanan makin prima. Agar terpilih dan tetap dipercaya oleh pasar.

Alternatif solusinya harus inovatif. Harus sinergis. Harus integrasi. Agar bisa meniadakan dan menghargai limbah jadi komoditas berharga sebagai penambah income (laba). Tanpa banyak teoritis dengan jargon tinggi-tinggi.

Baca juga: Menghargai Kesempatan

Cukup dipraktekan agar kaya ilmu hikmahnya. Jadi bekal untuk menyempurnakan pada langkah-langkah berikutnya. Agar makin sesuai harapan. Harapannya mutu makin bagus, harga pokok produksi (HPP) makin rendah laba jadi tambah.

Hulu hingga hilir yaitu produk turunan inovatif terkelola dalam satu lokasi. Dampaknya pasar fanatik tergantung kepadanya. Lapangan kerja tercipta, nilai tambah didapat dan dampak imbas lainnya. Indeks nilai kompleksitas ekonominya tinggi.



 

Editor: Abdul Aziz