Aceh Timur, elaeis.co - Kementrian Pertanian (Kementan) rencana akan meluncurkan program Bank Benih Perkebunan (Babe-bun) pada 17 Maret 2023 besok. Program ini merupakan terobosan terbaru pemerintah untuk mendukung sawit berkelanjutan nasional.

Meski belum resmi dilaunchingkan, program pemerintah melalui Direktorat Perbenihan Perkebunan Kementerian Pertanian ini digadang-gadang dapat menjadi wadah bagi pelaku usaha dan pekebun kelapa sawit untuk memperoleh informasi mengenai benih kelapa sawit. 

Rencana mendapat respon positif dari petani di wilayah Aceh Timur. Bahkan mereka mendukung program yang akan diluncurkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo itu.

"Menurut saya baguslah, jadi petani pekebun jelas mendapatkan bibit kelapa sawit bermutu baik," ujar Ibrahim Mar selaku Ketua DPD Apkasindo Aceh Timur kepada elaeis.co, Rabu (15/3).

Kata Ibrahim dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR) tidak dibenarkan bibit disuplai dari penangkar yang tidak jelas. Bibit sawit untuk PSR harus berasal dari produsen bibit yang diakui pemerintah.

"Kalau di daerah kita yang dipercaya sebagai suplai yakni dari balai penelitian perkebunan kelapa sawit Medan, PT. Socfindo, PT .Lonsum dan beberapa sumber benih sawit lain yang diakui pemerintah," paparnya.

Terangnya, dari total 28 ribu hektar kebun masyarakat di Aceh Timur, tidak sedikit kebun yang produktivitasnya rendah. Malah dalam setahun hanya menghasilkan 10 ton. Padahal usia tanam baru 7 tahun lebih.

"Ada dua faktor yang mempengaruhi. Pertama karena perawatan yang sangat minim. Dimana petani sulit membeli pupuk yang kini harganya sangat tinggi," katanya.

Malah akibat perawatan yang buruk tadi, ada kebun kelapa sawit milik petani yang hanya 50 batang meski luasnya satu hektar. Ini akibat banyak  tanaman yang mati karena kurang perawatan.

Kemudian faktor yang kedua, banyak petani yang salah memilih bibit untuk kebun kelapa sawitnya itu. Petani justru menggunakan bibit yang tidak diketahui asal usul dan kualitasnya.

"Dulu petani kurang memahami tentang bibit bermutu. Malah kadang tunasan yang tumbuh di bawah pohon sawit dikutip dan ditanam kembali. Ini yang buat produktivitas kebun itu rendah," bebernya.

Untuk itu solusi agar kebun tersebut produktivitasnya meningkat dan penghasilan petani lebih terjamin adalah peremajaan dengan diganti menggunakan bibit unggul. Tentu ini juga mendukung program pemerintah tentang perkebunan sawit berkelanjutan.