Jakarta, elaeis.co - Seiring dengan terus anjloknya kualitas lahan pertanian dan perkebunan, pola regeneratif kembali digaungkan saat ini. Bahkan pola ini dinilai cocok diberlakukan di sektor perkebunan sawit.
Ketua Umum Popsi, Mansuetus Darto menjelaskan sistem pertanian regeneratif sebetulnya sudah sangat familiar bagi petani. Dimana pola ini bertujuan untuk memulihkan kualitas lahan dengan memperbaiki kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, memperkuat siklus air, serta membangun sistem usaha tani yang lebih produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim.
"Sejak revolusi industri, banyak petani terdorong mengadopsi sistem pertanian konvensional yang menekankan peningkatan produksi melalui penggunaan teknologi dan input kimia. Padahal, jauh sebelum itu, petani kita telah mengenal berbagai praktik yang menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah," bebernya kepada elaeis.co, Senin (30/3).
Darto menekankan bahwa pola regeneratif perlu dihidupkan kembali untuk masa depan perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Pola ini kata Darto, dapat disosialisasikan kembali melalui kelembagaan petani yang ada. Artinya perlu juga dilakukan penguatan kelembagaan petani. Kemudian menguatkan keterhubungan kelembagaan dengan pasar memastikan praktik perkebunan berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi nyata bagi petani kecil.
"Pendekatan pola regeneratif mampu menjadi strategi pemulihan lahan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, mengurangi ketergantungan petani terhadap input kimia sintetis dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan praktik budidaya yang lebih adaptif, " pungkasnya.
Pola Pertanian Regeneratif Perlu Diterapkan di Perkebunan Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini