Kaltim, elaeis.co – Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), masih belum menunjukkan peningkatan signifikan. 

Hingga saat ini, produksi tandan buah segar (TBS) petani masih berada di bawah 20 ton per hektare per tahun, jauh dari target pemerintah daerah yang menargetkan produktivitas minimal 30 ton per hektare per tahun.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan peningkatan produktivitas hanya dapat dicapai jika petani terus mendapatkan pelatihan dan pendampingan teknis secara berkelanjutan.

"Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus benar-benar diterapkan ketika kembali ke kebun," ujar Djoko, Senin (3/8).

Menurutnya, produktivitas kebun rakyat yang masih berada di bawah 20 ton per hektare menunjukkan masih besarnya ruang perbaikan dalam pengelolaan perkebunan sawit rakyat.

Untuk mengejar target tersebut, sebanyak 298 pekebun sawit dari Kabupaten Paser mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang berlangsung pada 2-7 Agustus 2026.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Wakil Direktur AKPY, Idum Satia Santi, menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam mendongkrak produktivitas kebun sawit rakyat.

Menurutnya, pengalaman bertani yang dimiliki petani selama bertahun-tahun harus dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan hasil riset agar menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.

"Petani mungkin sudah lama berkebun, tetapi pengalaman itu harus dikombinasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu mereka memahami pentingnya menggunakan benih unggul, menerapkan pemupukan yang tepat, hingga menjaga kesehatan tanah," katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi teknis mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga penerapan Good Agricultural Practices (GAP).