"CMC yang disintesis dari tankos sawit dipilih karena sifatnya yang biodegradable dan biokompatibel, serta kemampuannya untuk memodifikasi dan mengontrol pelepasan obat di dalam tubuh," ungkap Citra Apriliana.

Menurutnya, keunggulan dari sistem ini terletak pada kemampuannya untuk mengurangi efek samping yang sering kali terkait dengan terapi kanker konvensional, seperti kerusakan pada sel-sel sehat. 

Dengan menggunakan CMC dari pohon sawit, Citra bilang mereka selaku peneliti berharap dapat meningkatkan efisiensi pengobatan dan memberikan solusi yang lebih aman dan efektif bagi pasien kanker kolon. 

"Keunggulan lainnya yaitu partikel CMC dapat dikonjugasikan dengan asam folat sehingga mampu menargetkan sel kanker secara lebih akurat, sehingga obat lebih selektif membunuh sel kanker dan efek samping berkurang," kata dia.

Penggunaan limbah tankos sawit, menurutnya, juga sebagai bahan baku tidak hanya mengurangi masalah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit.

"Serabut dari tankos sawit dipreparasi sedemikian rupa sehingga menjadi berwarna putih kemudian dikonjugasikan dengan asam folat dan digunakan untuk melapisi Kuersetin UiO-66," urainya.

Kata dia, hal itu dilakukan untuk mengetahui hasil terbaik menggunakan berbagai uji dan karakterisasi serta dengan menggunakan pengukuran Response Surface Methodology (RSM).

Hasil awal penelitian, menurut Citra, menunjukkan bahwa sistem penghantaran obat berbasis CMC tankos sawit ini dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam jaringan kanker, melindungi pelepasan premature obat di lambung, dan mengurangi kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.