Kaltim, elaeis.co - Proyeksi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun ini mencapai 2.240 hektare. Ini terdiri dari 2.000 hektare di Kabupaten Paser dan 240 hektare di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kendati demikian, PLT Ketua DPW APKASINDO Kaltim Bekman Siahaan mengatakan setiap tahunnya target PSR di wilayahnya tidak pernah tercapai. Bisa jadi target tahun ini justru merupakan pengajuan tahun 2020-2021 yang belum terealisasi.

"Tahun lalu ada 7 koperasi yang belum dituntaskan. Alasannya sulit mendapat rekomendasi dari BPN dan perubahan Permentan 03 Tahun 2022," kata dia, Senin (11/7).

Menurutnya, target PSR tahun 2022 ini dapat tercapai jika pengajuan tahun sebelumnya mendapat rekomendasi dari BPN terkait persyaratan yang dibutuhkan. Padahal sebelumnya petani telah menyampaikan kepada Dinas Perkebunan Kaltim dan pihak BPDPKS.

"Kaltim ini sangat ketinggalan dalam realisasi PSR dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Padahal saat ini petani dimudahkan dengan permentan 03/2022 yang mengatur tiap satu KTP bisa mengajukan 4 hektare kebun kelapa sawit," bebernya.

Meski begitu, dirinya mendukung program PSR ini untuk terus digenjot. Sehingga kemudian hari kebun petani dapat berkontribusi meningkatkan produksi TBS Indonesia.

Sementara itu, Ketua DPD APKASINDO Kukar, Daru Widiyatmoko mengatakan di wilayahnya ada seluas 1.500 hektare kebun kelapa sawit yang sudah diajukan. Namun belum mendapat persetujuan keseluruhannya. Padahal kebun yang diajukan sudah berumur di atas 20 tahun.

Dari informasi yang diterimanya, pengajuan itu belum mendapat persetujuan lantaran luasan lahan belum sesuai. "Kita belum mendapat informasi pasti kenapa ditolak, sebab  diajukan melalui Disbun Kaltim," terangnya.

Kendati demikian, desas desus kabar yang diperolehnya PSR itu diutamakan untuk Kabupaten Paser, kemudian akan berlanjut ke Kukar pada tahun 2022 ini atau 2023 mendatang.

"Kalau masyarakat pasti berharap program ini dapat direalisasikan secepatnya. Sebab umur kelapa sawit yang sudah di atas 20 tahun. Kemudian produksi juga sudah cukup rendah. Kalau PSR yang dilakukan perusahaan secara mandiri sudah ada di sini," bebernya.