Pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol menuju campuran E10 dengan bahan baku tebu dan singkong. Teknologi ini dinilai lebih siap karena bioetanol dapat langsung dicampurkan dengan bensin melalui proses blending.

Namun, produksi bioetanol domestik yang masih terbatas membuat penerapannya belum berlangsung secara nasional.

Di sisi lain, peluang sawit menjadi bahan baku bensin tetap terbuka. Pertamina terus mengembangkan teknologi green gasoline, green diesel, serta fasilitas biorefinery dan co-processing di sejumlah kilang.

Pengembangan tersebut membutuhkan investasi, peningkatan kapasitas fasilitas, kepastian pasokan bahan baku, serta keekonomian produksi sebelum dapat diterapkan secara luas.

Artinya, bukan teknologi yang menjadi tembok utama bensin sawit. Tantangannya adalah membawa teknologi yang sudah dikembangkan menuju produksi komersial berskala besar.

Jika berhasil, pemanfaatan sawit tidak hanya berhenti di B50. Komoditas strategis ini berpeluang semakin dalam masuk ke sektor energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah CPO di dalam negeri.

B50 sudah berjalan. Kini pertanyaan berikutnya tinggal satu: kapan sawit benar-benar masuk ke tangki bensin?

Menurut Anda, Indonesia perlu mempercepat pengembangan bensin berbasis sawit atau fokus mematangkan B50 terlebih dahulu?