Fasilitas di klinik PT SAU 1 sendiri cukup terbatas. Hanya terdapat tiga ruangan, salah satunya diisi dua kasur untuk pemeriksaan pasien. Bangunan kayu ini tidak bisa menampung lebih dari 50 orang.
Tenaga medis yang bertugas pun hanya bidan dan perawat, sementara dokter berada di induk perusahaan dan siap dipanggil saat dibutuhkan.
Masalah lain muncul dari ketersediaan obat. Persediaan rutin dari induk perusahaan kadang habis sebelum pengiriman berikutnya tiba. Obat-obatan tertentu, seperti obat cacing, dibagikan melalui posyandu setiap enam bulan. Namun saat kebutuhan meningkat, stok bisa cepat menipis, membuat tugas tenaga medis semakin berat.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Juniarti tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Baginya, bekerja di perkebunan sawit adalah bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kesulitan sudah menjadi bagian dari pekerjaan, namun semangat untuk melayani masyarakat tidak pernah surut.
“Susahnya memang ada, tapi itu sudah bagian dari pekerjaan. Yang penting bagaimana kami bisa terus membantu masyarakat di sini,” pungkasnya.
Kisah Juniarti mengingatkan bahwa di balik keberadaan perkebunan sawit yang luas, ada tenaga medis yang bekerja keras, berjuang melawan keterbatasan demi memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga.
Dari medan sulit, fasilitas terbatas, hingga stok obat yang minim, semua menjadi bagian dari tantangan sehari-hari, namun dedikasi dan komitmen mereka tetap menjadi cahaya di tengah kompleksitas perkebunan.
Beratnya Jadi Tenaga Medis di Perkebunan Sawit, Obat Minim Tapi Pasien Banyak
Diskusi pembaca untuk berita ini