Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mencatat kenaikan pada Kamis (23/4), di tengah tren berlawanan yang terjadi di pasar global.
Berdasarkan data perdagangan, harga CPO KPBN ditetapkan sebesar Rp15.488 per kilogram, naik Rp76/kg atau sekitar 0,49 persen dibandingkan posisi Rabu (22/4) yang berada di level Rp15.412/kg. Kenaikan ini menunjukkan adanya penguatan permintaan atau sentimen positif di pasar domestik, meskipun tekanan eksternal mulai terasa.
Penetapan harga tersebut tercermin pada transaksi Franco Dumai yang berada di angka Rp15.488/kg. Sementara itu, untuk Loco Parindu, harga dibuka di level Rp15.138/kg, namun tidak terjadi transaksi (withdraw/WD).
Penawaran tertinggi pada sesi tersebut hanya mencapai Rp14.963/kg, masih di bawah harga yang diharapkan penjual.
Kondisi ini menggambarkan adanya kehati-hatian pelaku pasar dalam melakukan transaksi, terutama di tengah ketidakpastian arah harga global. Pelaku industri cenderung menahan transaksi ketika selisih harga belum menemukan titik temu antara penjual dan pembeli.
Berbanding terbalik dengan pasar domestik, harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives justru ditutup melemah pada perdagangan hari yang sama. Pelemahan ini terjadi setelah harga sempat menguat selama tiga hari berturut-turut, yang kemudian dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Mengacu pada laporan pasar internasional, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 turun sebesar RM49 per ton atau sekitar 1,06 persen, sehingga ditutup pada level RM4.579 per ton, setara dengan sekitar US$1.155 per ton.
Penurunan harga di Bursa Malaysia dipicu oleh melemahnya harga produk turunan sawit, khususnya palm olein, di pasar Dalian, China. Selain itu, sentimen global juga dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati lainnya yang menunjukkan tren campuran.
Di pasar Dalian, harga kontrak soyoil tercatat naik tipis sekitar 0,09 persen, sementara kontrak minyak sawit mengalami penurunan sebesar 0,05 persen. Sementara itu, di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai justru terkoreksi sekitar 0,2 persen.
Analis menilai, dinamika ini mencerminkan tingginya sensitivitas harga CPO terhadap pergerakan minyak nabati pesaing. Sebagai komoditas global, CPO harus bersaing langsung dengan minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak nabati lainnya dalam memenuhi kebutuhan pasar dunia.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan domestik Indonesia yang berpotensi memengaruhi permintaan CPO. Pemerintah berencana meningkatkan mandat campuran biodiesel berbasis sawit dari B40 menjadi B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri secara signifikan, sehingga dapat menjadi penopang harga di tengah tekanan global. Peningkatan serapan domestik juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap ekspor, sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.
Di sisi lain, pelaku industri juga menunggu perkembangan data stok minyak sawit, baik di dalam negeri maupun global, yang kerap menjadi indikator penting dalam menentukan arah harga. Keseimbangan antara produksi dan permintaan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan pergerakan harga ke depan.
Dengan kondisi saat ini, harga CPO diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Sentimen global, termasuk pergerakan minyak nabati pesaing dan kondisi ekonomi dunia, akan tetap menjadi faktor dominan. Sementara itu, kebijakan domestik seperti implementasi biodiesel B50 berpotensi memberikan bantalan bagi harga agar tidak mengalami tekanan lebih dalam.
Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan tersebut guna mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi dinamika pasar CPO yang semakin kompleks dan terintegrasi secara global.
CPO KPBN Sentuh Rp15.488Kg, Pasar Global Berbalik Arah
Diskusi pembaca untuk berita ini