Tekanan tersebut berpotensi mengurangi margin keuntungan petani apabila kenaikan harga TBS tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya pemeliharaan kebun.
GAPKI juga memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2026 berpotensi turun 1 hingga 2 juta ton dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 51,7 juta ton.
Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan petani. Jika produksi turun akibat cuaca ekstrem, petani bisa mendapatkan harga lebih tinggi tetapi menjual volume buah yang lebih sedikit.
Dari pasar global, gangguan ekspor minyak bunga matahari akibat konflik Rusia-Ukraina juga berpotensi mengalihkan sebagian permintaan ke minyak sawit. Perubahan tersebut dapat memberikan tambahan dukungan terhadap harga CPO.
Sementara itu, bagi perusahaan perkebunan, kenaikan harga CPO berpotensi menjadi katalis positif. Samuel Sekuritas memperkirakan kenaikan harga CPO 10 persen dapat meningkatkan rata-rata laba bersih emiten perkebunan hingga 37 persen pada 2027.
Bagi petani sawit, kuncinya tetap berada pada transmisi harga hingga tingkat TBS. Jika harga CPO tinggi di pasar global diikuti harga TBS yang lebih baik, sementara produktivitas dan biaya produksi tetap terkendali, peluang petani untuk meningkatkan pendapatan semakin besar.
Dengan demikian, CPO yang menembus level tertinggi 20 bulan merupakan sinyal positif, tetapi belum bisa langsung diterjemahkan sebagai “petani pasti cuan”. Ancaman El Nino, biaya pupuk, produktivitas kebun dan penerapan B50 tetap menjadi faktor penentu.
CPO Tembus Level Tertinggi 20 Bulan, Petani Sawit Bisa Cuan?
Diskusi pembaca untuk berita ini