Menurut Wafi, implementasi B50 yang baru efektif berjalan pada Juli masih berpotensi menjadi pendorong permintaan CPO dalam jangka panjang. Selain itu, harga minyak dunia yang masih tinggi ikut menjaga daya saing harga CPO.

Meski begitu, investor juga diminta tidak mengabaikan sejumlah risiko. Produksi TBS biasanya mulai memasuki low season pada semester kedua sehingga volume panen berpotensi menurun.

Selain itu, keterlambatan pembayaran dana dari BPDP yang beberapa kali terjadi pada tahun-tahun sebelumnya berpotensi mempengaruhi arus kas perusahaan. Perlambatan ekonomi global juga dinilai bisa menekan permintaan minyak nabati.

Di tengah berbagai peluang dan tantangan tersebut, Wafi menilai investor sebaiknya lebih selektif dalam memilih saham sawit.

Ia menyebut perusahaan yang memiliki bisnis biodiesel terintegrasi, kondisi keuangan yang kuat, serta struktur kepemilikan saham yang sehat akan lebih siap menghadapi dinamika pasar.

"Dari sejumlah emiten, AALI dan DSNG relatif menarik sebagai proxy B50. Namun investor tetap perlu mencermati posisi utang dan rencana belanja modal perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi," ujarnya, Sabtu (1/8). 

Dengan kombinasi harga CPO yang masih tinggi, dukungan program B50, dan fundamental perusahaan yang solid, saham AALI dan DSNG diperkirakan masih menjadi dua emiten sawit yang layak dipantau investor pada paruh kedua 2026.