Jakarta, elaeis.co – Peluang cuan dari saham emiten sawit diperkirakan masih terbuka pada paruh kedua 2026. Meski laju kinerjanya diprediksi tidak sekuat semester pertama, analis menilai masih ada dua saham yang layak menjadi perhatian investor, yakni PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).
Kedua emiten tersebut dinilai memiliki prospek menarik seiring masih tingginya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan mulai berjalannya program mandatori biodiesel B50 yang diyakini bakal menjaga permintaan CPO tetap tinggi.
Sepanjang semester I-2026, sejumlah emiten sawit berhasil mencetak kinerja yang mengesankan. AALI membukukan laba bersih sebesar Rp1,09 triliun, melonjak 56,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan juga naik dari Rp14,44 triliun menjadi Rp15,25 triliun.
Sementara itu, DSNG mencatat laba bersih sekitar Rp1 triliun, meningkat 9,36 persen secara tahunan. Meski pertumbuhan pendapatannya tidak terlalu besar, perusahaan tetap mampu menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.
Tak hanya AALI dan DSNG, emiten sawit lainnya seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) juga membukukan pertumbuhan laba dua digit. Hal ini menjadi sinyal bahwa industri sawit masih menikmati momentum positif.
Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, ada tiga faktor utama yang membuat emiten sawit tampil kuat pada semester pertama 2026.
Pertama, harga CPO masih bertahan di atas MYR 4.500 per ton. Kondisi ini didorong oleh implementasi B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026 serta ketatnya pasokan global akibat dampak El Nino dan meningkatnya biaya logistik internasional.
Kedua, semester pertama merupakan masa panen atau peak season tandan buah segar (TBS), sehingga volume produksi dan harga jual rata-rata berada di level tinggi. Situasi tersebut ikut mendongkrak laba perusahaan.
Ketiga, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh sekitar Rp18.000 per dolar AS justru memberikan keuntungan bagi emiten sawit. Sebab, sebagian besar pendapatan mereka menggunakan dolar AS, sedangkan mayoritas biaya operasional masih dalam rupiah.
Memasuki semester II-2026, prospek industri sawit masih dinilai positif meski diperkirakan lebih moderat dibanding enam bulan pertama.
Dua Saham Sawit Ini Jadi Jagoan Analis di Semester II 2026, Sudah Punya?
Diskusi pembaca untuk berita ini