Ketika dia menumpuk dan memerlukan waktu hingga lebih dari 100 tahun untuk terurai, dia menjadi masalah. Dia tak sekedar sampah, tapi sekaligus ancaman dan petaka peradaban. Itulah plastik.
Lama kelamaan menumpuk dan menggunung. Ada yang sengaja dibuang di batang air, badan air dan lautan. Sampah plastik menggantung di tebing-tebing sungai, pantai, laut bahkan samudera.
Dia tersangkut di akar kayu sepanjang tebing dan bahkan hinggap di pepucuk dedaunan di puncak gunung. Dia menghentikan aliran air di lembah-lembah, ikut mematikan biota air dan biota dalam tanah.
Dia menyesakkan nafas manusia kala dibakar. Maka, di sini plastik menjelma jadi petaka dan bencana. Hari ini, gaya hidup dan cara pandang terhadap plastik harus diubah sejak dini. Kalau tidak, kita akan mengalami kiamat plastik. Satu bahan yang amat sulit terurai di muka bumi. Bahkan plastik bisa menenggelamkan sebuah kota beradab.
Indonesia adalah penyumbang sampah plastik yang dihanyutkan ke laut terbesar kedua setelah Cina. Ranking prestasi kah ini? Waw... ini rangking kemunduran peradaban.
Belum lagi tumpukan plastik yang menggunung di kawasan area pembuangan akhir di kota-kota besar Indonesia. Alhasil, manusia dan plastik seakan-akan memang berpembawaan sampah.
Plastik itu sendiri sudah jelas sampah. Pun, manusia yang memproduksi plastik dengan alasan apapun sejatinya adalah makhluk sampah dan penyampah.
Bumi yang begitu elok dan purna dihibah kepada kita, tapi kita pula yang memecatkannya dalam gaya masa bodoh. Berbanding dengan hewan? Hewan menghasilkan sampah sebagai sisa dari makanan dan mudah terurai secara alami.
Sebaliknya manusia memproduksi sampah, bersumber dari sisa makanan, sisa gaya hidup, sisa bangunan, sisa perbuatan peradaban dalam segala bentuk dan skala.Semua ini disemangati oleh instink ekonomi ekstraktif.
Nir-Plastik Ya, Kehidupan
Diskusi pembaca untuk berita ini