Mungkinkah? Kita menggaulinya sejak pagi hingga malam. Dia menjadi teman hidup sejak kanak-kanak hingga tua renta. Dia wadahi air dalam kemasan, media minuman jus instan. Jua pembungkus obat-obatan. 

Dia juga memanjakan ibu-ibu ke pasar; tak perlu susah payah menyimpan dan membawa tas khusus. Juga media para peritel kecil hingga pemilik waralaba untuk promosi dan identitas produk. Dia dijadikan kemasan pembungkus cemilan dan mainan yang dijual di sekolah hingga supermarket. 

Menjadi aneh, pikiran manusia hari ini hanya memaknai plastik sebagai sampah (waste), yang hanya tertumpu pada tas atau kantong keresek. Dari sini kisah tentang kehadiran plastik sebagai pembantu kehidupan hingga menjadi sampah kehidupan, dimulai. 

Ikhtiar reduksi efek plastik dalam kehidupan, sebuah keniscayaan. Timbunan plastik hari ini telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan peradaban: Sumber prima, air. 

Kini badan-badan air telah penuh sesak ditimbuni gerombolan plastik yang bisa membentuk koloni daratan baru, bahkan benua plastik. 

Baca juga: Kompor Induksi; Ilusi Niscaya?

Segala hidupan atau biota air terancam punah. Biota itu sendiri ialah sumber gizi dan gantungan hidup bagi keperluan tubuh jasadi kita. 

Kepunahan berjenis biota yang disebabkan oleh plastik, ancaman bagi kehidupan manusia. Para aktivis lingkungan menghentak kesadaran kita mengenai bahaya plastik di tengah kehidupan. Kini sampah plastik sudah menjadi “terror” bisu.

Semula dia bukanlah sampah. Dia dihajatkan untuk memudahkan manusia dalam segala hal. Termasuk dalam urusan kesehatan (misalnya; pembungus obat dan operasi).