Jakarta, elaeis.co – Papua bersiap memasuki babak baru pembangunan ekonomi berbasis perkebunan. Sebuah kawasan terpadu bertajuk 'Plaza Sawit' direncanakan akan dibangun di Kabupaten Keerom dan digadang-gadang menjadi pusat ekonomi modern berbasis kelapa sawit yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Program ini diinisiasi oleh DPW APKASINDO Papua sebagai bagian dari percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Tidak hanya berfokus pada kebun, konsep 'Plaza Sawit' dirancang sebagai kawasan industri terpadu yang menggabungkan perkebunan sawit, pabrik kelapa sawit (PKS), hingga industri turunan dalam satu ekosistem ekonomi.
Ketua DPW APKASINDO Papua, Albert Youku, mengatakan bahwa pembangunan kawasan ini merupakan langkah strategis untuk mengubah pola ekonomi sawit rakyat di Papua agar lebih bernilai tambah.
“Selama ini petani hanya menjual tandan buah segar. Dengan Plaza Sawit, kita ingin seluruh proses pengolahan dilakukan di daerah sendiri sehingga nilai tambahnya dinikmati masyarakat lokal,” ujarnya, Rabu.
Rencana pembangunan ini muncul seiring pelaksanaan program PSR di Keerom yang memiliki potensi lahan sekitar 12.000 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 hektare telah masuk program peremajaan, dengan tahap awal pengembangan mencapai 534 hektare.
Konsep 'Plaza Sawit' akan menghadirkan sistem terintegrasi, mulai dari kebun sawit rakyat, fasilitas PKS yang dikelola koperasi, hingga industri pengolahan lanjutan. Dengan demikian, hasil panen tidak lagi dikirim ke luar daerah, melainkan langsung diolah di dalam kawasan.
Menurut APKASINDO Papua, salah satu persoalan utama petani saat ini adalah jarak tempuh pengiriman TBS yang mencapai 7 hingga 30 kilometer ke pabrik milik perusahaan lain. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga menurunkan kualitas buah.
Lebih jauh, 'Plaza Sawit' tidak hanya ditujukan sebagai kawasan industri, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Dengan adanya aktivitas industri, kawasan ini berpotensi berkembang menjadi permukiman baru yang produktif dan membuka banyak lapangan kerja.
Albert menegaskan bahwa proyek ini bisa menjadi titik balik pembangunan ekonomi daerah.
“Kita ingin ada perputaran ekonomi di dalam daerah. Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pelaku utama dalam industri,” katanya.
Salah satu fokus utama proyek ini adalah hilirisasi sawit. Tidak hanya berhenti pada produksi minyak sawit mentah (CPO), kawasan ini akan mendorong pengembangan produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Dengan adanya industri hilir, Papua diharapkan tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga pusat produksi bernilai tinggi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
APKASINDO menekankan bahwa keberhasilan pembangunan 'Plaza Sawit' sangat bergantung pada sinergi antara petani, koperasi, pemerintah daerah, dan pelaku industri.
Program PSR sendiri menjadi momentum penting untuk menata ulang perkebunan sawit rakyat agar lebih produktif, modern, dan berkelanjutan.
Jika terealisasi, 'Plaza Sawit Keerom' diproyeksikan menjadi model baru pembangunan ekonomi berbasis perkebunan rakyat di Indonesia timur, sekaligus membuka peluang lahirnya kota ekonomi baru dari sektor sawit di Papua.
Papua Bangun Plaza Sawit Raksasa di Keerom, Bisa Jadi Kota Baru Berbasis Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini