Pekanbaru, elaeis.co - "Sekarang kami bangga mampu menjadi bagian untuk menjaga ketahanan pangan," kata Fenti memulai pembicaraan. 

Pemikiran yang cerdas dipadu dengan nada bicara tegas. Begitu keunggulan dia yang terlahir sebagai disabilitas. 

Beragam rencana ke depan terpatri erat yang kapanpun itu siap untuk disalurkan. Keterbatasan terlahir disabilitas, jelas baginya bukan dianggap sebagai batasan. Malah, itu adalah peluang untuk menyalakan harapan, mewujudkan ragam impian terpendam. 

Fenti, wanita paruh baya itu terlahir sebagai pengidap cerebral palsy, atau kelumpuhan pada fungsi otak. Namun, baginya kondisi itu tidak sedikitpun meredupkan semangat.

Alih-alih berpangku tangan, perempuan paruh baya itu enggan hanya sekedar bersandar dalam keputusasaan. Malah, impian setinggi-tingginya dia gantungkan, menyalakan asa bagi kaum sepenanggungan.

Perempuan paruh baya itu adalah penderita cerebral palsy atau lumpuh otak sejak lahir yang menyebabkan gangguan pada sinkronisasi gerakan dan koordinasi tubuh. Untuk sekedar berdiri dan melangkahkan kaki, dia tak pernah lepas dari sebatang tongkat yang menopang tubuhnya.

Beruntung, terapi yang dia jalani berhasil menghambat keterbatasan yang dialaminya. Dia pun merasa Yang Maha Kuasa masih memberinya kesempatan. Dan kesempatan itu yang dimanfaatkan sebesarnya untuk membantu sepenanggungan.

Wanita berhijab tersebut tergabung dalam Yayasan Insan Berguna Nusantara (IBNU) Pekanbaru yang menaungi para penyandang disabilitas di Kota Pekanbaru, Riau.

Semangat Fenti dan rekan-rekannya menarik PT Perkebunan Nusantara V untuk menstimulasi semangat dan menyalakan harapan mereka. Sejak setahun lalu, anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara III Persero tersebut aktif menyalurkan bantuan modal usaha budidaya lele.