Menurut dia, program biodiesel bukan sekadar meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik, tetapi merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

"Prinsipnya sama, kita sedang melakukan diversifikasi. Dulu menggunakan fossil fuel, sekarang mulai beralih ke biofuel yang berbasis sawit. Ini langkah yang harus kita dukung bersama," ujarnya.

Pemerintah optimistis implementasi B50 akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. 

Kementerian ESDM memperkirakan kebijakan tersebut mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang 2026 melalui penurunan impor solar. 

Nilai tersebut meningkat dibanding penghematan pada era B40 yang mencapai sekitar Rp133 triliun.

Selain mengurangi impor BBM, peningkatan campuran biodiesel menjadi 50 persen juga diproyeksikan meningkatkan serapan crude palm oil (CPO) di pasar domestik, memperkuat hilirisasi industri sawit, serta mempercepat target kemandirian energi nasional. 

Pemerintah menyatakan berbagai uji teknis terhadap B50 pada kendaraan, alat berat, kereta api hingga kapal menunjukkan hasil yang positif sehingga implementasi nasional dapat dimulai pada 1 Juli 2026.

Meski demikian, Herman mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan. 

Menurutnya, peningkatan permintaan bahan baku biofuel tidak boleh mengganggu pasokan pangan maupun pakan ternak.

Ia menilai perencanaan produksi pertanian harus dilakukan secara lebih matang agar peningkatan kebutuhan energi tidak memicu lonjakan harga bahan pangan maupun bahan baku industri lainnya.

"Yang penting adalah keseimbangannya. Kebutuhan energi harus terpenuhi, tetapi kebutuhan pangan masyarakat juga harus tetap terjaga. Karena itu seluruh perhitungannya harus dilakukan secara cermat," katanya.

Herman berharap implementasi B50 menjadi langkah awal menuju kemandirian energi Indonesia sekaligus mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM yang selama ini terus membebani devisa negara.

"Menurut saya kita dukung bersama. Semoga program ini sukses dan mampu mengimbangi kebutuhan impor yang terus meningkat setiap tahun," pungkasnya.