Bogor, elaeis.co – Pemberlakuan mandatori biodiesel B50 yang dimulai pada 1 Juli 2026 menjadi tonggak baru dalam transisi energi nasional. 

Namun, di balik optimisme pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM), kebijakan tersebut juga membawa tantangan baru bagi sektor pertanian, yakni semakin ketatnya persaingan pemanfaatan komoditas untuk kebutuhan pangan (food), pakan ternak (feed), dan energi (fuel).

Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron, menilai fenomena tersebut sudah mulai terasa, terutama pada komoditas kelapa sawit yang selama ini menjadi salah satu andalan Indonesia.

"Realitasnya, suatu saat kita akan berkompetisi antara food, feed, dan fuel. Dulu minyak sawit digunakan untuk memasak, makanan, dan kosmetik. Sekarang sudah mulai digunakan untuk fuel," kata Herman, Rabu (1/7). 

Menurutnya, tidak hanya minyak sawit, berbagai komoditas pertanian lainnya juga berpotensi mengalami perebutan penggunaan. 

Sebagian dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sebagian menjadi pakan ternak, sementara sisanya diarahkan sebagai bahan baku energi terbarukan.

"Artinya, komoditas yang sama bisa dikonsumsi oleh tiga sektor sekaligus. Tentu nanti akan terjadi persaingan yang berdampak pada harga karena ketersediaannya terbagi. Situasi ini harus benar-benar diperhitungkan," ujarnya.

Meski demikian, Herman menegaskan bahwa pengembangan biofuel berbasis sawit tetap merupakan langkah yang tepat karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor BBM berbasis fosil.

Ia menjelaskan, produksi minyak nasional masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Pemerintah sendiri menargetkan lifting minyak pada 2026 sebesar sekitar 610 ribu barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi BBM nasional diperkirakan telah mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sehingga Indonesia masih menjadi net importer minyak.

"Kalau orientasinya untuk fuel, menurut saya bagus karena kita sekarang masih net importer terhadap bahan bakar berbasis fosil. Lifting minyak kita hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Artinya kita masih kekurangan pasokan," kata Herman.