Jakarta, elaeis.co - Implementasi program mandatori biodiesel B50 yang resmi berlaku sejak 1 Juli 2026 dinilai menjadi katalis positif bagi industri minyak sawit nasional.
Kebijakan yang mewajibkan pencampuran 50 persen biodiesel ke dalam bahan bakar jenis solar diperkirakan akan meningkatkan permintaan domestik crude palm oil (CPO), menjaga harga tetap tinggi, sekaligus mengerek kinerja emiten perkebunan sawit.
Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengatakan peningkatan konsumsi CPO di dalam negeri akan mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor sekaligus menekan risiko kelebihan pasokan (oversupply).
Kondisi tersebut diyakini mampu menopang harga CPO meski permintaan global sedang melambat.
Menurut Edwin, emiten yang memiliki bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk fasilitas refinery dan produksi biodiesel, akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari implementasi B50.
"SMAR diuntungkan karena memiliki integrasi usaha dari hulu hingga hilir, kapasitas refinery yang besar, serta eksposur tinggi terhadap bisnis biodiesel. Sementara DSNG, ANJT, dan SSMS memiliki profil tanaman yang relatif muda sehingga produktivitasnya lebih tinggi," ujar Edwin, Senin (13/7).
Ia menyebut PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), serta PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) sebagai emiten yang berpotensi memperoleh manfaat paling besar dari kebijakan tersebut.
Sejalan dengan itu, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty memperkirakan program B50 akan meningkatkan konsumsi domestik CPO sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun. Bertambahnya kebutuhan dalam negeri diperkirakan akan memperketat pasokan ekspor sehingga mampu menjaga harga CPO tetap tinggi.
Menurut Arinda, kenaikan harga CPO akan berdampak langsung terhadap rata-rata harga jual (average selling price/ASP) produsen sawit, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.
Ia menilai emiten dengan volume produksi CPO besar dan biaya produksi yang efisien akan menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan tersebut. Beberapa saham yang dinilai menarik antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan SMAR.
"Emiten-emiten ini memiliki eksposur terbesar terhadap kenaikan harga CPO," kata Arinda.
B50 Resmi Jalan, Analis Ungkap Emiten Sawit yang Diprediksi Melejit Paling Kencang
Diskusi pembaca untuk berita ini