Medan, Elaeis.co - Bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Perkebunan Sumut, Flora Barimbing tahu betul banyak sekali isu yang bisa dijadikan sebagai alat untuk menyerang sawit. Kehadiran anak di kebun sawit adalah salah satunya.
Wanita berusia 48 tahun ini mengalami sendiri bagaimana berhadapan dengan persoalan anak di perkebunan sawit. Beberapa tahun terakhir dia dan adik-adiknya mengelola kebun sawit warisan orang tuanya di Desa Wonosari, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumut.
Mereka sangat risau karena banyak pekerja perempuan membawa anak saat bekerja di kebun sawit. “Saya dan saudara-saudara saya sempat bingung, tak mungkin melarang mereka bawa anaknya yang masih kecil ke kebun sawit kami. Tapi kami juga tak mau dituding macam-macam oleh pihak lain yang melihat ada anak di bawah umur di kebun sawit,” katanya.
Pengalaman itu diutarakannya dalam Focus Group discussion (FGD) bertajuk "Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan dalam Rumahtangga Pekebun Sawit Rakyat" yang diselenggarakan Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSSPO) Universitas Sumatera Utara (USU), Kampus Merdeka, Australia Centre for Internasional Agriculture Research, dan lainnya di Le Polonia Hotel Medan, Selasa (14/12/2021).
Menurutnya, para pekerja itu tinggal di sekitar di kebun sawit mereka. “Sudah lama kami kenal dengan mereka. Mereka jujur dan pekerja keras. Tapi anak-anaknya masih kecil dan butuh perhatian orang tua, sulit memisahkan mereka dengan anak-anaknya,” ujarnya.
Dia lantas berunding dengan saudara-saudaranya. Akhirnya diambil keputusan membangun rumah bagi pekerja yang punya anak kecil. “Air dan listrik sudah tersedia. Kami bangun rumah itu di dalam kebun sawit, dengan begitu para pekerja tak perlu membawa anak-anak mereka saat bekerja,” katanya.
Dia mengakui harus mengeluarkan dana ekstra untuk mendirikan rumah untuk pekerja. “Tapi kami bebas dari rasa khawatir difitnah macam-macam. Para pekerja juga bisa pulang kapan saja ke rumah untuk melihat dan mengawasi anak-anak mereka,” tukasnya.
“Tak apa-apa keluar duit kalau itu bisa membuat pekerja kami betah bekerja. Rumah yang layak kami buatkan agar mereka tak jauh dari anak-anaknya. Lega rasanya setelah kami menemukan solusi untuk persoalan ini,” pungkasnya.
Begini Cara ASN ini Atasi Isu Anak di Kebun Sawitnya
Diskusi pembaca untuk berita ini