Lalu, PT. Satria Multi Sukses 1.371,73 hektar, PT. Prakarsa Tani Sejati 1.190,10 hektar, PT. Rezeki Kencana 1.672,84 hektar, PT. Mempawah Permai Lestari 818,17 hektar dan PT. Mandiri Kapital Jaya 655,94 hektar. Kelimanya berada di Kalbar.
Beruntung Agrinas. 'Bayi Ajaib' kayak dapat 'durian runtuh'. Sebab meski baru bertransformasi dari PT. Indah Karya menjadi PT. Agrinas Palma Nusantara pada 16 Januari 2025 lalu, dalam hitungan bulan sudah akan memiliki lebih dari satu juta hektar kebun sawit.
Luasan ini benar-benar akan mengalahkan 'abang'nya Palmco yang baru punya target akan punya kebun sawit sekitar 800 ribu hektar.
Uniknya, walau lahan kebun sawit itu berada di kawasan hutan, perusahaan ini tak perlu pusing. Sebab Kehutanan sendiri yang mengasi lahan itu cuma-cuma.
Beda dengan seniornya PTPN yang justru sempat kesandung hukum lantaran lahan kebun kelapa sawitnya ada yang berada di kawasan hutan.
Dalam paparan tadi disebutkan, nantinya lahan yang didapat Agrinas, mayoritas akan dikelola sendiri, sekitar 4500 hektar dikerjasamakan, 2000-an hektar menjadi plasma dan 200-an hektar dihutankan kembali.
Sayang, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tak kunjung menjawab pertanyaan terkait alasan Kehutanan menyerahkan lahan-lahan kebun sawit itu kepada Agrinas dan apakah status lahannya masih tetap kawasan hutan.
Termasuk lahan kebun Sawit PT. Torganda yang dalam Putusan Mahkamah Agung nomor 2642K/PID//2006 tanggal 12 Februari 2007, diserahkan kepada Kehutanan yang namun pada 25 April 2025 Kehutanan kemudian menyerahkan kebun sawit itu kepada Agrinas untuk dikelola.
Cerita Bayi Ajaib dan Kebun Sawit Ratusan Perusahaan di Label Haram itu
Diskusi pembaca untuk berita ini