Kondisi ini dipicu oleh implementasi kebijakan biodiesel B50 yang direncanakan mulai berlaku pada Juli 2026, stagnasi produksi, serta meningkatnya konsumsi domestik yang telah terjadi sejak awal tahun.

Berdasarkan proyeksi Oil World, produksi CPO Indonesia pada 2026 diperkirakan stabil di kisaran 49,4 juta ton. Namun dalam empat bulan pertama tahun ini, kombinasi ekspor dan konsumsi dalam negeri telah meningkat sekitar 2,2 juta ton atau 15 persen, yang mengindikasikan tekanan pada ketersediaan ekspor ke pasar global.

Selain faktor fundamental pasokan, MPOC juga menilai risiko fenomena El Niño berpotensi menjadi faktor penopang harga CPO. Hingga Juni 2026, dampak cuaca kering tersebut belum terlihat signifikan di Indonesia maupun Malaysia. 

Namun peluang terjadinya El Niño yang lebih kuat pada Juli atau Agustus semakin meningkat dan berpotensi menurunkan curah hujan di kawasan Asia Tenggara, Australia, dan India.

Meski demikian, dampak El Niño terhadap produksi sawit biasanya baru terasa setelah jeda waktu sekitar sembilan hingga dua belas bulan. Artinya, pengaruhnya terhadap output global baru akan terlihat pada periode berikutnya, bukan secara langsung dalam jangka pendek.

Di sisi lain, MPOC mengingatkan bahwa ruang kenaikan harga CPO masih dapat tertahan oleh tingginya stok minyak nabati di negara-negara importir utama. India tercatat memiliki stok sekitar 2,2 juta ton pada Mei 2026, level tertinggi dalam 17 bulan terakhir. 

Sementara itu, stok di Tiongkok mendekati 2 juta ton, yang menjadi salah satu level tertinggi sepanjang tahun berjalan.

Selain itu, prospek biodiesel juga mulai melemah akibat harga gasoil yang berada di bawah harga minyak sawit di pasar berjangka. Kondisi ini mengurangi daya tarik penggunaan CPO sebagai bahan baku energi alternatif, sehingga berpotensi membatasi permintaan tambahan dari sektor energi.

Dengan kombinasi faktor tersebut, mulai dari pengetatan pasokan Indonesia, penurunan produksi Malaysia, perluasan pasar ekspor, hingga risiko El Nino, MPOC memperkirakan harga CPO akan tetap bertahan di level tinggi pada Juli 2026. 

Namun, laju penguatannya diperkirakan tidak akan terlalu agresif karena masih adanya tekanan dari stok minyak nabati global yang relatif besar.