Kuala Lumpur, elaeis.co – Prospek harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada semester kedua 2026 diperkirakan masih berada pada tren positif. 

Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Council/MPOC) memproyeksikan harga CPO akan bergerak di kisaran RM4.400 hingga RM4.650 per ton pada Juli 2026, didorong oleh ketatnya pasokan di negara produsen utama serta meningkatnya risiko gangguan produksi akibat faktor iklim.

Dalam laporan terbarunya, MPOC menilai pasar minyak nabati global saat ini sedang mengalami pergeseran keseimbangan antara pasokan dan permintaan. 

Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga CPO tetap bertahan di level tinggi dalam beberapa bulan ke depan, meskipun terdapat tekanan dari tingginya stok minyak nabati di sejumlah negara importir besar.

MPOC mencatat produksi minyak sawit Malaysia pada Mei 2026 mengalami penurunan sebesar 6,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 1,51 juta ton. 

Penurunan ini terjadi setelah periode produksi tinggi yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026, diikuti fase istirahat biologis tanaman sawit. Selain itu, jumlah hari panen yang lebih sedikit akibat libur nasional turut menekan output bulanan.

Dari sisi perdagangan, ekspor minyak sawit Malaysia juga mengalami perlambatan pada Mei 2026. Namun demikian, secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor masih menunjukkan kinerja kuat dengan peningkatan sekitar 783 ribu ton atau 13,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh permintaan dari India, Kenya, dan Vietnam yang mencatat tambahan volume signifikan.

Selain pasar tradisional, MPOC juga menyoroti peran kawasan Afrika Sub-Sahara dan ASEAN yang semakin penting sebagai motor pertumbuhan ekspor. 

Dalam lima bulan pertama 2026, kedua kawasan tersebut menyerap sekitar 36 persen total ekspor minyak sawit Malaysia, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 25 persen lima tahun lalu. Perubahan ini mencerminkan semakin luasnya diversifikasi pasar di tengah ketatnya persaingan minyak nabati global.

Dari sisi regional, Indonesia diperkirakan akan menghadapi pengetatan pasokan minyak sawit yang tersedia untuk ekspor pada akhir kuartal ketiga hingga kuartal keempat 2026.