Jakarta, elaeis.co – Perdagangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali menghadapi tekanan. Pada tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) atau Inacom, seluruh penawaran CPO berakhir dengan status withdraw (WD) pada Senin (27/7).
Data KPBN menunjukkan penawaran tertinggi CPO hanya mencapai Rp15.677 per kilogram. Angka tersebut turun Rp91 per kilogram atau sekitar 0,58% dibandingkan penawaran tertinggi pada Jumat (24/7/2026) yang berada di level Rp15.768 per kilogram.
Status withdraw menunjukkan harga penawaran dari pembeli belum memenuhi harga yang diharapkan penjual sehingga transaksi tidak dilanjutkan. Kondisi ini kerap menjadi indikator melemahnya minat beli di pasar fisik CPO.
Di lokasi Franco Dumai, harga pembukaan berada di Rp15.800 per kilogram. Namun tender berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.677 per kilogram.
Hal serupa terjadi di Franco Teluk Bayur. Harga dibuka Rp15.670 per kilogram, tetapi juga berstatus withdraw setelah penawaran tertinggi hanya mencapai Rp15.475 per kilogram.
Tidak hanya itu, tender FOB Palembang juga mengalami withdraw. Harga pembukaan Rp15.650 per kilogram, sementara penawaran tertinggi tercatat Rp15.449 per kilogram.
Sementara di Loco PKS Parindu dan Ngabang, harga dibuka Rp15.450 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp15.300 per kilogram. Adapun Loco PKS Kembayan dibuka Rp15.350 per kilogram dan memperoleh penawaran tertinggi Rp15.200 per kilogram. Kedua tender tersebut juga berakhir withdraw.
Pelemahan di pasar domestik sejalan dengan pergerakan harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives. Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 15 pekan, kontrak berjangka CPO justru terkoreksi pada perdagangan Senin.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Oktober turun RM39 per ton atau sekitar 0,83% menjadi RM4.683 per metrik ton pada awal perdagangan.
Tekanan tersebut dipicu oleh melemahnya harga minyak nabati pesaing, termasuk minyak kedelai, serta turunnya harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut mengurangi sentimen positif terhadap minyak sawit sehingga mendorong aksi ambil untung di pasar berjangka.
Pelemahan yang terjadi secara bersamaan di pasar fisik domestik dan bursa berjangka internasional menjadi sinyal bahwa pasar CPO masih dibayangi ketidakpastian.
Pelaku industri diperkirakan akan mencermati perkembangan harga minyak nabati global, pergerakan minyak mentah, serta prospek permintaan dari negara-negara importir utama dalam beberapa hari ke depan.
Harga CPO KPBN Mendadak Withdraw, Sinyal Buruk Untuk Bursa
Diskusi pembaca untuk berita ini