Serba-Serbi 

Harga Sawit Meroket, Emak-emak Merepet

  • Reporter Bayu
  • 13 Oktober 2021
Harga Sawit Meroket, Emak-emak Merepet
Minyak goreng kemasan dipajang di etalase sebuah toko retail di Pekanbaru (Bayu)

Pekanbaru, Elaeis.co - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau beberapa kali memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Saat ini harga TBS untuk tanaman sawit berusia 10-20 tahun ditetapkan Rp 3.014,81/kg. Petani sawit hingga ke pelosok bersuka ria.

Namun lonjakan harga sawit ternyata berimbas pada harga minyak goreng. Di Kota Pekanbaru, banyak ibu rumah tangga mengeluh karena harga kebutuhan pokok itu terus naik.

Herlina, warga Kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru, mengatakan, kenaikan harga minyak goreng rata-rata lebih 20 persen. 

“Bimoli ukuran 2 liter, dulu Rp 27 ribu sekarang Rp 32 ribu. Sania isi 2 liter yang dulu Rp 26 ribu, sekarang sudah jadi Rp 35 ribu. Yang ekonomis, minyak goreng Permata ukuran 2 liter dulu harganya Rp 21 ribu, sekarang naik jadi Rp 26 ribu,” paparnya kepada Elaeis.co, Rabu (13/10) pagi.

Dia berharap di masa pandemi seperti saat ini harga bahan-bahan pokok, termasuk minyak goreng, bisa lebih terkontrol. “Ekonomi susah, malah bahan-bahan pokok mahal,” ucapnya.

Seorang pemilik kedai harian di Jalan Garuda Sakti, Pekanbaru, Yeni, membenarkan naiknya harga seluruh merek minyak goreng kemasan. “Sekarang mahal semua kalau minyak goreng,” ujarnya. 

Sementara itu, pantauan di sejumlah toko retail, harga minyak goreng kemasan 2 liter semuanya sudah di atas Rp 30.000. Seperti harga minyak goreng Sania ukuran 2 liter saat ini dibanderol Rp 36.000, merk Sovia Rp 31.900, Fortune Rp 32.100, dan Bimoli Rp 32.600.

Tak hanya yang kemasan, minyak goreng curah juga mengalami kenaikan dari harga biasa. “Sekarang yang curah sudah Rp 15.000/kg, sebelumnya  Rp 13.000/kg. Gak ada minyak goreng yang murah sekarang,” sebut Ningsih, ibu rumah tangga lainnya.

Dia mendesak pemerintah dan produsen segera menggelar operasi pasar karena masyarakat sangat membutuhkan minyak goreng. “Sekarang mau tak mau tetap harus beli, kalau tidak mau makan pakai lauk apa. Tapi kan pemerintah tidak bisa diam saja melihat masyarakat menderita,” tandasnya.

“Pemerintah harus tahu, yang menikmati kenaikan harga sawit adalah petani. Masalahnya, tidak semua orang punya kebun sawit. Sekarang ekonomi kebanyakan masyarakat sedang morat marit,” pungkasnya.


 

Editor: Rizal