Dewandaru 

Indonesia Masa Depan Bioenergi Dunia

  • Reporter Aziz
  • 16 Desember 2021
Indonesia Masa Depan Bioenergi Dunia
ilustrasi. foto: ist

Terasa menyenangkan dan menyemangati saat mengikuti webinar beberapa hari lalu, yang menghadirkan narasumber para pakar dan tokohnya bioenergi. 

Topiknya bagus tentang energi baru terbaharukan. Menyimak saja merasa dapat energi baru juga.

Narasumbernya Prof. Tatang (Pakar Bioenergi ITB), Prof. Subagjo (Pakar Katalis ITB) dan Bpk. Paulus dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi). 

Ketiga narasumber, sungguh mencerahkan. Sangat baik buat kawula muda pemilik masa depan bangsa ini.

Di Italia harga Bioenergi saat ini Rp23 ribu per liter. Tapi di Indonesia kita semua tahu berapa harganya, karena disubsidi. 

Baca juga: Pengembangan Kawasan Pangan Mandiri 

Artinya, pangsa pasar bioenergi sangat besar di luar negeri. Kalimat bermakna sarat pesan untuk masa depan ini, disampaikan oleh Bpk. Paulus.

Sesungguhnya apa yang dibutuhkan di dunia hari ini dan masa depan ada berlimpah di Indonesia. Bio Avtur idealnya agar rantai pendek cukup dari karnel inti sawit dan kelapa. Bukan dari minyak mentah sawit (CPO). "Pasarnya Bio Avtur sangat besar," ujar Prof Tatang.

Di Kampus ITB, sudah banyak hasil penelitian hal bioenergi berbahan tanaman yang banyak di Indonesia. Artinya, mudah dikembangkan. 

Hanya saja butuh kajian kepentingan keekonomian sebagai dampaknya, misalnya antara pangan dan energi. "Prinsipnya, siap dimulai kapan saja," kata Prof Subagjo.

Sisi lain lagi, sebelum tahun 1995, cangkang alias tempurung sawit masih dianggap limbah. Sehingga hanya jadi pengeras jalan di perkebunan sawit.  

Antara tahun 1995 sampai tahun 2000, saya berdayakan pengganti batubara, 3.000 ton per bulan dipasok ke pabrik kertas terbesar di Sumut. 

Baca juga: Negeri Ini Kesulitan Sapi

Saat ini jadi devisa triliunan per tahunnya untuk pengganti batu bara di banyak negara termasuk Jepang dan Korea Selatan. 

Tidak menutup kemungkinan dijadikan karbon aktif, asap cair pestisida organik dan arang briket agar dapat nilai tambah lebih besar lagi. Persis sama saat saya riset bersama LIPI tahun 2005.

Pada webinar, Prof Tatang juga menyuarakan bahwa Indonesia juga masih punya sumber energi berlimpah dari limbah cair pabrik kelapa sawit. 

Potensinya sangat besar. Baik mectan maupun listriknya. Baru dan terbaharukan tiada habisnya. Hampir belum terjamah oleh kita. Hanya butuh investasi dan sentuhan inovasi permentasi saja.

Lalu, saya membuat estimasi kalkulasi logis dasar data valid. Bahwa jumlah tandan buah segar sawit (TBS) Indonesia minimal 240 juta ton per tahun dari kebun seluas 16,38 juta hektar.

Baca juga: Belajar Dari Gagalnya Peternak Sapi 

Jika hanya 15 ton TBS per hektar per tahun atau 50 juta ton CP0 per tahun dengan rendemen 22%, rendemen limbah cairnya justru 60 sampai 70 %. Setara berpotensi 150 juta kilo liter per tahunnya. 

Luar biasa jika ini semua jadi gas atas listrik. Hanya butuh terobosan kebijakan politik makro saja. 
Benar bahwa masa depan bioenergi untuk dunia adanya di Indonesia. Sehingga sangat penting membangun SDM Industriawan inovatif dan iklim usaha yang menarik.



 

Editor: Abdul Aziz