Sumatera 

Ini Alasan Bustomi Setia Pakai Bibit Produksi Lonsum

Ini Alasan Bustomi Setia Pakai Bibit Produksi Lonsum
Para pekerja sedang mengumpulkan hasil panen buah sawit di kebun sawit milik Bustomi, petani swadaya di di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Bingin Teluk, Kabupaten Muratara, Sumsel. Foto: dok. pribadi

Palembang, elaeis.co - Banyak petani sawit swadaya menggunakan berbagai varietas sawit produksi sejumlah balai benih untuk membandingkan bibit mana yang menghasilkan panen terbaik. Namun ada juga petani yang loyal menggunakan benih atau bibit sawit dari satu balai benih saja.

Bustomi adalah salah satu yang masuk golongan petani yang loyal itu. Petani yang berdomisili di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Bingin Teluk, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan ini, mengaku selalu menggunakan kecambah produksi Sumatera Bioscience (SumBio) atau dikenal dengan nama Bah Lias Research Station (BLRS). SumBio atau BLRS adalah balai benih milik PT London Sumatera (Lonsum), perusahaan sawit yang berkantor pusat di Kota Medan, Sumatera Utara.

"Saya menggunakan kecambah atau bibit Lonsum sejak tahun 1996, bersamaan dengan berdirinya kebun Lonsum di Sumatera Selatan," kata Bustomi kepada elaeis.co, Selasa (25/1/2022) malam.

Pemilik kebun sawit seluas 60 hektare ini mengaku sudah tiga tahap menanam bibit sawit produksi Lonsum. Yakni tahun 1996, 2004, dan 2010. Ia memiliki sejumlah alasan atas loyalitasnya tersebut.

"Pertama, pertumbuhan tinggi tanaman sawit Lonsum cukup lambat. Bisa dibayangkan, yang tahun tanam 2010 ketinggiannya cuma empat meter. Sementara untuk yang tahun tanam 2004 belum sampai 12 meter dan yang tahun tanam 1996 ketinggiannya masih sekitar 20 meter," paparnya.

Kata dia, pelambatan tinggi pohon sawit memudahkan para pekerja saat melakukan panen. "Enggak susah mau ngegreknya. Hemat biaya pembelian egrek," katanya.

Dengan perawatan yang baik, menurutnya, bibit sawit Lonsum bisa memberikan hasil tandan buah segar (TBS) yang menggembirakan. Setiap satu kavling atau dua hektar kebun sawitnya mampu menghasilkan 3 ton TBS dengan berat buah rata-rata 35 kilogram dan rendemen yang lumayan tinggi.

Satu kelebihan lagi dari bibit Lonsum, kata Bustomi, saat trek yang biasanya dimulai sekitar bulan Oktober sampai Januari, produksi buah sawitnya tidak terlalu jauh turunnya.

"Enggak terlalu jatuh hasil panennya pas lagi trek. Dengan perawatan yang maksimal, sejatuh-jatuhnya paling cuma kurang 35 persen dari produksi normal,” jelas Bustomi. 


 

Editor: Rizal