Serba-Serbi 

Ini Sebabnya Masyarakat Sering Kalah Berkonflik dengan Perusahaan

  • Reporter Bayu
  • 12 Oktober 2021
Ini Sebabnya Masyarakat Sering Kalah Berkonflik dengan Perusahaan
Ilustrasi (Int.)

Pekanbaru, Elaeis.co - Ratusan konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan di Riau sampai saat ini belum terselesaikan dengan tuntas. Penyelesaian lewat jalur hukum dinilai bukan solusi menyeluruh karena menyisakan kelompok yang tidak puas.

Anggota Komisi V DPRD Riau, Marwan Yohanis, mengatakan, sampai sekarang belum ditemukan solusi konflik lahan yang memuaskan semua pihak. “Jalur hukum selama ini selalu menjadi pilihan. Kalau ini yang terjadi, masyarakat lebih sering kalah,” katanya kepada Elaeis.co, Selasa (12/10/2021).

Menurutnya, perusahaan sangat paham masalah legalitas lahan sehingga berusaha menguasai bukti-bukti kepemilikan. “Karena selama ini hukum kita itu hukum positif, maka yang dilihat adalah legalitas seperti sertifikat, HGU. Tapi masyarakat kita belum berada pada tatanan itu,” tukasnya.

Menurutnya, penyelesaian melalui jalur hukum kebanyakan merugikan masyarakat tempatan. Terlebih masyarakat adat yang dominan tidak memiliki legalitas hukum atas klaim tanah ulayat.

“Artinya, kalau itu yang ditanya, masyarakat tidak punya sertifikat. Apalagi tanah ulayat, tanah adat. Hanya disebut ini adalah tanah ulayat kami, hutan ulayat kami, dan ada batasnya seperti sungai. Kalau itu dibawa ke pengadilan, tentu itu tidak ada gunanya,” paparnya.

Ironisnya, menurutnya, banyak perusahan yang berkonflik lahan dengan masyarakat mendapatkan legalitas lahan dengan cara licik.

“Banyak surat-surat perusahaan yang masih harus dipertanyakan. Yang kita persoalkan cara dia mendapatkan sertifikat. Contohnya saja ada gubernur yang tersandung kasus hukum karena perusahaan ingin merubah alih fungsi lahan. Ini salah satu cara mereka mendapatkan legalitas, dengan cara yang tidak benar, melanggar hukum,” bebernya. 

Menurutnya kong kali kong antara penguasa dengan korporasi sudah menjadi rahasia umum. “Di zaman yang terang-terangan seperti sekarang saja mereka masih bermain kok dengan oknum-oknum. Apalagi di zaman dulu yang masyarakatnya tidak mengerti soal itu,” tandasnya.

“Makanya saya sering katakan kepada investor yang ingin berusaha di sini, ayo pikirkan juga masyarakat tempatan. Jangan sampai bermusuhan, rangkul mereka,” tambahnya.


 

Editor: Rizal