Limapuluh Kota, elaeis.co - Selain karena faktor topografi yang berbukit-bukit, keengganan sebagian besar masyarakat di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), untuk beralih komoditas karena booming harga gambir yang bisa datang tanpa diduga.

"Termasuk alih komoditas  ke sawit sekali pun, banyak petani yang berpikir panjang," ujar H. Khairil, pemilik sekaligus pedagang pengumpul gambir di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

"Kalau harga gambir naik, naiknya itu sering tidak tanggung-tanggung," ujar Khairil kepada elaeis.co, Senin (22/5). "Bisa mengubah yang hitam menjadi putih," begitu Khairil mengistilahkan.

Tapi diakui Khairil, yang sering terjadi adalah harga gambir yang jatuh di pasaran. Ketika kondisi seperti ini, menurut Khairil, jangankan berharap untung, hasil ladang bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya produksi.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, menurut Khairil, dengan nilai jual di bawah Rp20.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, petani tidak bisa berharap banyak dari ladang gambir yang dimilikinya.

Bila itu yang terjadi, sambung Khairil, banyak petani yang membiarkan kadang gambirnya tidak terurus dan merimba karena hasil ladang tidak cukup untuk membiayai pembersihan lahan.

Yang uniknya, sebut Khairil, ketika banyak ladang merimba, biasanya harga naik karena barang langka di pasaran. "Kenaikannya terkadang tidak tanggung-tanggung," sebut Khairil. 

Seperti kondisi terakhir, harga gambir terkerek naik sampai Rp60.000/kg, jauh meninggalkan harga sebelumnya yang di bawah Rp20.000/kg. "Bahkan pernah mencatat kenaikan tertinggi, yaitu Rp125.000/kg," terang Khairil.

Kalau sudah demikian, menurut Khairil, tingkat pendapatan petani dan pekerja di ladang gambir berubah dengan sangat drastis. "Pekerja di ladang gambir saja bisa menerima upah Rp300.000/hari," ungkapnya.

Yang lebih diuntungkan, sambung Khairil, tentu pemilik ladang gambir, yang setiap usai proses produksi bisa meraup uang dalam hitungan juta rupiah. "Terutama pemilik dengan penguasaan lahan yang luas."

Tak pelak, menurut Khairil, hasil gambir sering dijadikan masyarakat untuk sandaran pemenuhan kebutuhan skala besar seperti membangun rumah, membeli kendaraan, naik haji dan menyekolahkan anak.

Sambangilah daerah-daerah sentra gambir, kalau banyak menemui rumah permanen yang megah dan mewah, "Hampir dipastikan merupakan hasil dari ladang gambir," bebernya.

Begitu pun kendaraan berbagai jenis dan model, juga hasil dari ladang gambir. Tak jarang setiap rumah memiliki sejumlah unit  sepeda motor keluaran terbaru, tergantung jumlah anak di rumah itu.

"Petani bersikukuh tak mau pindah komoditas karena harga gambir bisa naik seketika dengan tingkat kenaikan yang tinggi," ungkap Khairil. Petani, menurut Khairil, lebih memilih membiarkan ladangnya merimba ketika harga murah daripada diganti dengan komoditas perkebunan lainnya, termasuk sawit sekali pun.