Jakarta, elaeis.co - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi industri kelapa sawit menuju sistem yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial di tengah tekanan global yang makin kompleks, termasuk regulasi ketat dari pasar internasional.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Iim Mucharam, S.P., M.P., Direktur Sawit dan Aneka Palma yang mewakili Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Dr. Ir. Ali Jamil, MP., Ph.D dalam pembukaan HAI Sawit Simposium (HASI) ke-2 tahun 2026 di Jakarta.
Dalam sambutannya, Iim menekankan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas biasa. Lebih dari itu, sawit merupakan tulang punggung penting bagi ketahanan pangan, energi, hingga ekonomi nasional.
“Indonesia dan Malaysia saat ini menyuplai sekitar 80 hingga 85 persen kebutuhan minyak sawit dunia. Ini menunjukkan betapa strategisnya posisi kita dalam menjaga stabilitas global,” ujarnya, Rabu (22/4).
Berdasarkan proyeksi 2025, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, jauh di atas Malaysia yang berada di kisaran 19 hingga 20 juta ton. Angka ini semakin mengukuhkan Indonesia sebagai produsen utama dunia.
Tak cuma soal produksi, kontribusi sektor ini terhadap ekonomi juga besar. Industri sawit menyumbang sekitar 2,5 hingga 4,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dari sisi tenaga kerja, lebih dari 16 juta orang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sementara itu, dari sisi ekspor, sawit menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Pada 2025, nilai ekspor minyak sawit Indonesia tercatat mencapai USD 24,42 miliar dengan volume 23,61 juta ton. Jika dihitung bersama produk turunannya, kontribusinya mencapai ratusan triliun rupiah.
Namun di balik besarnya kontribusi tersebut, tantangan global juga semakin nyata. Salah satunya adalah kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan produk sawit bebas dari deforestasi serta memiliki sistem ketertelusuran hingga tingkat kebun.
Regulasi ini, kata Iim, memaksa industri sawit Indonesia untuk berbenah secara menyeluruh.
“Mulai dari legalitas lahan, transparansi rantai pasok, hingga praktik budidaya berkelanjutan harus diperkuat. Ini tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.
Dalam konteks ini, penerapan Best Management Practice (BMP) menjadi kunci utama. BMP tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjadi syarat penting agar produk sawit Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Di sisi energi, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi sawit melalui program biodiesel. Sejak 2025, Indonesia telah menerapkan mandatori B40 sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor solar.
Ke depan, pemerintah bahkan tengah menyiapkan langkah menuju B50. Kebijakan ini diyakini akan meningkatkan konsumsi domestik crude palm oil (CPO) sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Program tersebut turut didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui berbagai inisiatif seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penguatan sarana dan prasarana, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menariknya, transformasi sawit ini juga menjadi perhatian lintas negara. Malaysia, sebagai produsen utama lainnya, juga terus memperkuat program biodiesel mereka. Sinergi kedua negara dinilai penting untuk menghadapi tekanan global secara bersama.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI), M Syarif Rafinda, menegaskan bahwa industri sawit tak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
“HASI ini bukan sekadar simposium, tapi gerakan. Tempat bertemunya pengalaman, teknologi, dan inovasi untuk membawa industri sawit naik kelas,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Pemimpin Redaksi HAI Sawit, Gema Aliza. Ia menyebut bahwa lahirnya HASI berangkat dari kegelisahan di lapangan, melihat banyaknya potensi besar yang belum terwadahi secara optimal.
“Banyak profesional sawit hebat, banyak pengalaman luar biasa. Tapi belum semua terhubung dalam satu ekosistem yang kuat,” katanya.
Melalui forum ini, pemerintah berharap lahir rekomendasi konkret yang bisa langsung diimplementasikan di lapangan. Bukan cuma untuk meningkatkan produktivitas, tapi juga menjawab tantangan global dengan pendekatan kolaboratif.
Di akhir sambutannya, Iim menegaskan bahwa pemerintah akan terus hadir memperkuat sektor sawit melalui kebijakan yang berorientasi pada produktivitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekebun.
“Transformasi ini bukan pilihan, tapi keharusan. Kalau kita ingin tetap jadi pemain utama dunia, kita harus berubah,” pungkasnya.
Kementan Dorong Transformasi Sawit Modern, Siap Lawan Tekanan Global
Diskusi pembaca untuk berita ini