Bengkulu, Elaeis.co - Penurunan harga minyak kelapa sawit (CPO) di Provinsi Bengkulu tidak semata-mata dipicu oleh konflik di Timur Tengah saja, namun juga dipicu oleh pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan saat ini 1 dolar AS setara Rp 16.263.

Menurut Pengamat Ekonomi Bengkulu, Prof Dr Kamaludin SE MM, selain konflik di Timur Tengah, pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memainkan peran penting dalam penurunan harga CPO di Indonesia termasuk Bengkulu. Bahkan, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, membuat harga referensi (HR) CPO turun menjadi 798,90 dolar AS per metrik ton (MT).
"Penurunan HR CPO ini dipengaruhi oleh penurunan harga minyak nabati lainnya terutama kedelai (soybean) dan melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat," kata Kamaludin, Sabtu 20 April 2024.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Eksportir Cangkang Sawit di Bengkulu Berpotensi Untung

Akibat turunnya HR CPO, harga CPO di Indonesia, termasuk di Provinsi Bengkulu, mengalami penurunan. Dampaknya langsung dirasakan oleh para petani, dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani juga mengalami penurunan.
"Karena harga CPO menurun, harga TBS kelapa sawit di Bengkulu juga terimbas turun," ujar Kamaludin.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bengkulu, John Simamora menyatakan, keprihatinannya terkait dengan penurunan harga CPO tersebut.
"Kami merasa khawatir dengan penurunan harga CPO karena akan berdampak langsung pada pendapatan petani kelapa sawit di daerah ini," ujar John.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu berupaya mencari solusi untuk mengatasi dampak negatif dari penurunan harga CPO. Wakil Gubernur Bengkulu, Rosjonsyah mengatakan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mencari strategi yang tepat guna menjaga kestabilan harga CPO di daerah Bengkulu.
"Kami akan mencari solusi, misalnya mendirikan pabrik hilirisasi CPO," ujar Rosjonsyah.

Baca Juga: Pemerintah Berencana Potong Rantai Distribusi Kelapa Sawit

Dalam menghadapi situasi ini, Rosjonsyah berharap petani kelapa sawit di Bengkulu tetap bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas mereka. Sebab upaya peningkatan efisiensi dan produktivitas akan membantu meredakan dampak penurunan harga CPO.
"Kami pikir efisiensi dan produktivitas tanaman sawit harus terus ditingkatkan, kalau itu meningkat, harga CPO menurun pun petani tidak begitu terasa," pungkasnya.