Mukomuko, elaeis.co – Kelapa sawit menjadi komoditas utama yang diusahakan masyarakat di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Luas perkebunan sawit terus bertambah, menandakan besarnya minat masyarakat menjadikan sektor ini sebagai sumber penghasilan utama.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Fitriyani Ilyas SPt menyebutkan, pada tahun 2000 hanya terdata kebun sawit seluas 3.391 hektare di Mukomuko. Pada tahun 2019 lalu, luas perkebunan sawit sudah bertambah menjadi 22.315 hektare.

“Luas lahan perkebunan sawit di Mukomuko terus meningkat berkali-kali lipat,” katanya dalam keterangan resmi dikutip elaeis.co Ahad (19/1).

Sayangnya, lonjakan luas perkebunan sawit berkorelasi dengan menyusutnya areal persawahan di Mukomuko. “Banyak sawah dialihfungsikan menjadi kebun sawit,” sebutnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Mukomuko, luas lahan sawah di Daerah Irigasi (DI) Manjuto yang tersebar di lima kecamatan telah berkurang sebanyak 6.819 hektare pada tahun 2019.

“Luas sawah di DI Manjuto pada tahun 2000 mencapai 9.063 hektare yang tersebar di lima kecamatan. Pada tahun 2008 meningkat menjadi 9.187 hektare karena adanya program cetak sawah. Namun pada tahun 2019 atau dalam rentang 19 tahun, luas sawah tinggal 2.368 hektare,” rincinya.

“Data ini berdasarkan hasil penelitian Land Use Map 2000-2019 DI Manjuto di wilayah Kabupaten Mukomuko. Berdasarkan data itu, terlihat bahwa luas lahan sawah berkurang sementara luas lahan sawit meningkat,” sambungnya.

Menurut penelitian, ada lima penyebab pengalihan fungsi atau konversi sawah menjadi lahan sawit. Yakni faktor ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastruktur, serta hukum dan kelembagaan. "Dari lima faktor tersebut, terdapat dua penyebab utama, yakni ekonomi dan sosial budaya," ujarnya.

Secara ekonomi, katanya, harga gabah di Mukomuko kurang kompetitif sementara biaya sarana dan prasarana pertanian terlalu tinggi. “Sedangkan sawit, pemasaran hasil panen lebih mudah. Karena inilah warga kita lebih memilih berkebun sawit,” bebernya. 

Penyebab alih fungsi lainnya adalah pengaruh teknologi dan kearifan lokal. Menurutnya, kearifan lokal budidaya padi di daerah ini sudah mulai ditinggalkan. “Dulu, petani menanam padi tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Mereka menggunakan bahan organik untuk menanam padi. Tapi sekarang sudah bergantung pada bahan kimia,” bebernya.

“Ke depan kita berharap dapat mendorong penerapan kembali kearifan lokal untuk meningkatkan minat masyarakat dalam kegiatan pertanian pangan,” imbuhnya.