Komoditi 

Petani Sawit Muba Bakal Dapat Dana dari Norwegia

  • Reporter Sany
  • 24 November 2021
Petani Sawit Muba Bakal Dapat Dana dari Norwegia
Duta Besar (Dubes) Norwegia, Rut Kruger Giverin mendatangi petani di Desa Mendis Bayung Lencir Kabupaten Muba. Ist

Jakarta, Elaeis.co - Duta Besar (Dubes) Norwegia, Rut Kruger Giverin mendatangi petani di Desa Mendis Bayung Lencir Kabupaten Muba, Rabu (24/11). Mereka menawarkan berbagai program untuk mendukung upaya-upaya keberlanjutan perkebunan kelapa sawit. 

Plt Bupati Muba, Beni Hernedi SIP menyambut kedatangan Rut Kruger.

"Kami juga ingin mendengar secara langsung keluh kesah yang disampaikan petani sawit hari ini, salah satu hal yang sangat menarik dan ingin kami pahami," ujar Rut Kruger Giverin.

Rut Kruger mengaku telah mendapat pelajaran yang sangat berharga. Itu juga akan menjadi bahan untuk dapat diceritakannya jika bertemu dengan pejabat pemerintahan khususnya terkait aspirasi petani. 

"Untuk pendanaan pemeliharaan perkebunan sawit masyarakat, sebenarnya pemerintah kami memiliki dana untuk petani mikro, dan akan kami pelajari apakah itu bisa diakses petani kecil," tuturnya.

Sementara itu, Plt Bupati Muba, Beni Hernedi antusias menyambut kunjungan Dubes Norwegia ke kelompok kelapa sawit yang menerapkan Best Management Praktis (BMP). Itu merupakan bantuan dari Dubes Norwegia melalui Global Yield Gap Atlas (GYGA).

"Kedatangan Ibu Kedubes Norwegia ini wajib kita syukuri, menyambutnya dengan luar biasa, dan semangat. Bagi kita menunjukkan peran kita, mereka ingin melihat bagaimana praktek kelapa sawit yang ada di bawah, apa lagi kelompok kepala sawit di Mendis Jaya menjadi percontohan dalam peningkatan hasil produktivitas tandan buah segar," kata Beni.

Beni menambahkan, wilayah kabupaten Muba sendiri seluas 1,4 juta hektar dan hampir 1.000 hektar isinya 2 komoditas utama yakni 500 sawit dan 500 karet. 

"Karet lebih dahulu ada tapi tidak ada perkembangan komoditas secepat sawit. Universitas Indonesia pernah survei dengan data mengatakan 80 persen pemilik lahan apabila ditanya mau tanam apa?. Pasti 80 persen menjawab sawit. Tapi masalahnya mereka tidak peduli apakah itu kawasan hutan atau bukan," jelas Beni.

Menurut Beni, persoalan itu menjadi tantangan bagi Pemkab Muba, untuk memberikan penjelasan apakah lokasi perkebunan sawit ini merupakan kawasan hutan. 

"Kadang mereka punya masalah di legaliti (sertifikat). Harus diakui sawit memang primadona dan prioritas pilihan petani. Tentunya karena sudah terbukti memberikan penghasilan yang cukup bagi petani. Terlebih lagi Muba ini luasan kawasan sawitnya juga ada privat sektor swasta yang mengusahakan lahan dengan bermitra dengan petani," kata dia.

Pemkab Muba sudah melakukan banyak hal dan berkomitmen dalam keberlanjutan kelapa sawit, terutama terkait peningkatan produktivitas dengan program peremajaan sawit rakyat. 

"Karena banyak isu sawit yang sudah tua, ada juga kesalahan bibit, makanya ini (replanting) yang terus kita lakukan. Kita ingin petani hasil yang baik, dan maksimal," jelasnya.

Koordinator Field Trials GYGA Hendra Sugianto mengungkapkan, pendampingan yang dilakukan telah dimulai sejak Oktober 2019. Bahkan, sudah masuk ke tahun ketiga. Di tahun pertama penelitian kepada kebun sawit produktivitas meningkat 24%, atau 2,9 ton pertahun per hektar. 

Kemudian di tahun ke dua meningkat lagi sebesar 63%, atau 9,3 ton TBS per tahun per hektare. 

"Kita harapkan petani di sini menjadi contoh sehinga produksi sawit di mendis tidak di pandang sebelah mata," tegasnya.

Sementara Ketua Petani BMP Mendis Jaya Simono mengucapkan terima kasih kepada pihak GYGA yang telah melakukan pendampingan dalam mengolah perkebunan sawit yang benar. 

"Kami sangat terbantu sekali dengan pendampingan ini, sehingga penghasilan kami meningkat," ucapnya.

Adapun beberapa aspirasi dari petani sawit di Mendis Jaya diantaranya, disampaikan oleh Novi yang berharap tidak hanya dilakukan pendampingan tapi juga dibantu pengadaan pupuk.

 

Editor: Sany Panjaitan